Saturday, October 10, 2015

Pengalaman Tak Terduga dengan Ma Lie : Gadis Tiongkok

Malam pukul 8.00  di KLCC kuala Lumpur Malaysia, Kita bertiga memasuki gerbong kereta, sambil memegang tiket, satu persatu nomor bangku kami amati dan mencocokan dengan nomor yang tertera di tiket kami, hingga sampailah di nomor bangku yang kami cari, segera saya letakan tas diatas bangku, dan kami keluarkan sebagian makanan untuk cemilan selama perjalanan menuju kota Hatyai Thailand. Sambil menunggu kereta berangkat tidak ketinggalan kami berfoto silfie ria.   Seriring berjalanan waktu satu persatu para penumpang memasuki gerbong yang kami tempati, hingga munculah sekitar 6 orang bertubuh tinggi dengan kulit khas albino, ya tidak asing lagi di negeri kita sering kita sebut bule, mereka tediri dari 5 cowok dan 1 cewek serta duduk di bangku  pas di depan kami, sehingga gerak tingkah mereka sering teramati oleh kami, apalagi tingkat mereka yang saling bercanda dan mengerja’i sesama mereka dengan bahasa mereka (yang saya dengar bukan bahasa Inggris), yang tak kalahnya mereka dengan tongsis bercanda dan berselfie ria seperti anak-anak muda di Indo.  
Foto terakhir kali bertemu dengan Ma Lie di Cousan Road Bangkok 
Lucky, salah satu temanku dalam trip ini berkata kok salah satu dari bule itu mirip aktor film yang lagi digandrungi oleh para anak muda sekarang ini, tapi saya tidak begitu memperhatikan siapa nama dan wajah aktor yang disebutkan temanku tersebut. Karena perhatianku tertuju pada pada sosok wanita cina yang baru masuk gerbong dengan berwajah putih dengan mata sipit khas etnik di negeriku yaitu Tionghoa, dia dengan membawa tas ransen yang ukuran besar, dia dengan terburu-buru menunjukan tiketnya kepada salah satu penumpang yang lain di gerbong itu, hingga dia melewati bangku tempat dudukku sambil dia bergumam dengan bahasa khas cina, yang memperlihatkan suatu kekesalan. Seiring lewatnya sang wanita cina itu, keretapun berjalan, sayapun sempat menoleh kebelakang memperhatikan wanita cina tersebut, dia ternyata langsung rebah dan meletakan tas besarnya dissampingnya. Sedangkan bangku duduk yang lain masih kosong. Selanjutnya saya kembali bercengkrama dengan kedua teman tripku bercerita tentang perjalanan dan pengalaman yang perna kami alami hingga akupun tertidur.

Pagipun sudah tiba, kami masih di dalam kereta menuju kota terbesar di Thailand selatan itu, hingga tibalah kami diperbatasan 2 negara makmur di Asean itu. Kami diperintahkan untuk turun dan mengecek pasport di Imigrasi. Saat masuk ruang administrasi kami diberi form yang harus diisi, saat saya sibuk mengisi form formulir, terdengarlah sauara dalam bahasa Indonesia “ehhh dapat form seperti itu darimana” lalu saya menoleh ke belakang, seorang gadis dengan wajah khas Indo tapi lebih dominan ke wajah Tionghoa. Lalu Lucky, menjawab “minta ke petugas disana” sambil dia menunjuk ke arah ruang. Lalu Wenny (teman tripku) “lah itu orang Indo kan? Dia pakai bahasa Indonesia” beberapa menit, datang lagi wanita tadi, dan kamipun berkenalan dan bersera-obrol. Ternyata dia adalah Nova warga Jakarta, dia jalan-jalan dari malaysia dan ke Hatyai, dia seorang wanita muda dan trip sendiri. Sampai saya berpikir, waw berani sekali dia seorang gadis muda jalan-jalan ke negara orang dengan sendiri.
Foto bersama saat bersama Nova 

Dari percakapan kami dengan Nova, tiba-tiba gadis cina yang duduk di belakangku, menghampiri kami dan menunjukan pasport dia (warga negara Tiongkok/ China), yang lebih membingungkan dia mengunakan bahasa mandarin sehingga kami banyak kebingungan, tetapi disela-sela itu ternyata Nova, cukup mengerti bahasa mandarin sehingga dia lebih banyak berbicara dengan gadis cina itu. Ternyata gadis cina itu tidak mengurus VISA sehingga dia harus ditahan dulu oleh pihak Imigrasi. Sehingga Nova menyarankan ke gadis cina itu untuk mengikuti petugas yang ada disana.

Setelah pengecekan selesai, kami diizinkan masuk kembali ke gerbong. Di gerbong kita ngobrol dan makan, namun kereta tidak kunjung berangkat, setelah cukup lama menunggu, tiba-tiba munculah sang gadis cina itu, dia langsung menghampiri kami dengan bahasa mandarinnya, kami sentak kebingungan lagi (si Nova berbeda gerbong dengan kami), ternyata dia tidak bisa berbahasa inggris, akhirnya Lucky melihat pasport dan kwitansi yang dia pegang. Ternyata dia harus membayar pengganti VISA, cukup mahal,  kami hitung dengan kurs rupian sekitar 5 juta rupiah. Setelah si cina itu masuk gerbong kereta bernagkat kembali. Penyebab kereta belum berangkat jua ternyata menunggu dia mengurus administrasi tersebut.

Siang hari, kami tiba di stasiun di Kota Hatyai, kamipun turun dan kami kembali berkumpul : Saya, wenny, Lucky,dan Nova. Sedangkan si gadis cina/ Tiongkok masih mengekor dengan kami, akhirnya kami kenalan dan bersera obrol, apalagi disana ada Nova yang bisa sebagai perantara bahasa mandarin. Obrol demi obrol ternyata gadis cina itu bernama Ma lie, dia dari Malaysia dan berencana ingin ke Bangkok, karena disana dia sudah janjian dengan temannya dari negara dia. 

Saya, wenny dan Lucky, kami bertiga  sempat berdiskusi alangkah beraninya wanita cina ini, dia pergi ke negara lain dengan modal berani, dari bahasa inggris (bahasa Internasional) dia sama sekali tidak bisa dan pergi tanpa mengurus VISA terlebih dahulu. Tidak tau itu modal berani apa modal nekat... hehehehe,... Lucky juga sempat melihat isi tas dia. “gila duitnya banyak banget dan trus dia pakai handphone samsung yang paling mahall” luar biasa tuhh tajirr gadis cina itu..... serem kalau di rampok gimana?/

Manggo Sticky Rice makanan khas Thailand 
Selama di Hatyai kami dari bertiga bertambah menjadi 5 orang, ketambahan Nova dan Ma Lie. Kita dengan mengunakan kendaraan umum (angkot), disana disebut tuk-tuk Kita wisata kuliner menikmati makanan khas Hatyai yaitu sticky monggo rice. Kemudian kita keliling pasar pakaian dan pernak pernik disana. Di Kota ini kita bisa menggunakan 2 mata uang yaitu ringgit (Malaysia) dan bath (Thailand), di kota ini juga masih banyak mengunakan bahasa melayu. Selama di Hatyai, Ma lie Bercerita melalui Nova, bahwa di negaranya pernak pernik seperti itu banyak, jadi dia tidak mau membeli di negara lain, lebih baik membeli di negara sendiri.. waw pesan moral yang menyentuh banget, Cinta produk dalam negeri. Setelah keliling pasar di Hatyai kita kembali ke stasiun

tuk tuk adalah angkotnya Negara Thailand
Pada Sore hari kita melanjutkan perjalanan menuju Ibu kota negeri gajah putih tersebut, Bangkok. Pada saat akan tiba di Kota Bangkok, tiba-tiba ada diantara penumpang gerbong menghampiri kami, seorang bapak warga Malaysia, sebelumnya dia kira kami adalah warga Malaysia, sehingga dia berani menyapa. Setelah ngobrol dia baru tau kalau kami dari Indo, dan dia banyak bercerita kalau dia sempat lama tinggal di Indo. Disela-sela obrolan dia sempat agak kurang senang dengan kebaikan kami atau terlalu welcome dengan orang baru (mengarah ke Ma-Lie) karena banyak kasus penyelundupan barang ilegal mengunakan orang-orang yang kurang berpengetahuan, dia mengarah ke Ma Lie, takut saja dia sebagai sindikat jaringan narkoba internasional, kalau benar bisa-bisa kalian kena juga... saya, Lucky dan Wenny sempat bertatapan mata cemas. Namun melihat kecemasan kami, bapak itu berusaha meleburkan kecemasan kami berkata lagi semoga saja dia tidak....  setelah di Bangkok, dengan bantuan bapak dari Malaysia itu kami bisa menjangkau tujuan kami lebih cepat  yaitu menuju kawasan Cousan Road menaiki Bis kota, di  Cousan Road kami berpisah dengan bapak asal Malaysia, dia berpesan tetap waspada dalam berdarmawisata. Sedangkan Ma Lie, masih mengekor dengan kami, kami masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan dia karena bahasa. Selanjutnya ketika kami sampai di penginapan yang sudah kami booking sewaktu di Indo, kami bisa berkomunikasi dengan Ma Lie mengunakan Google translate (atas ide dia kita bisa ngobrol dengan ini), sehingga obrolanpun bisa nyambung. Ma lie akan tinggal di Bangkok sekitar 10 hari karena dia sudah berjanji bertemu dengan temannya yang akan datang ke Bangkok, 10 hari lagi. Ma Lie rencana akan menginap juga di penginapan tempat kami menginap, tetapi  penginapan tersebut sudah full. Akhirnya kami mencarikan penginapan buat Ma lie, yang tidak begitu jauh dari penginapan kami. Selanjutnya kami berpisah dengan Ma Lie dan kembali ke penginapan kami.

Sekian hari kami tinggal di Kota Bangkok, menikmati berbagai sajian pesona wisata di Kota Metropolis itu, kami tiba saatnya pulang, siang hari itu kami akan menuju Bandara. Sebelum naik angkutan arah bandara kami sempat mampir ke mini market. Setelah ke luar minimarket. Wenny di kejutkan dengan adanya seseorang yang menarik tasnya dari belakang, ternyata ada sosok Ma lie, gadis Tiongkok yang kita kenal selama perjalanan menuju Bangkok. Akhirnya kita pamitan dan berpisah hingga sekarang tidak bertemu lagi..
Walau kenal singkat dengan Ma Lie tapi banyak point yang bisa kami pelajari...
Dari Cinta produk dalam negeri, Berani atau nekad, bahasa, teknologi berbicara, perlu perencanaan yang matang dan lain-lainnya..
Stasiun Kereta Api di Hatyai Thailand 

TUK TUK 

Foto bersama Ma Lie di depan Stasiun Kreta Hatyai Thailand





Load disqus comments

0 komentar