Sunday, October 30, 2016

Desa Jopu Flores: Khasana Budaya, Mandi Air Panas dan Makan Sirih

Hari ketiga malam ke 4 dalam trip ekplore Flores bersama Jala Mana Nusantara,  kita tiba di desa Jopu Wolowaru, Ola Ngari. Desa yang merupakan desa tercinta sang team leader trip kita yaitu bang Emanuel. 

Menjelang sore kita sudah berada di desa ini, saat masuk kawasan desa, kita sudah disabut dengan keramahan penduduk dengan khas budaya timur. Senyum ramah dan keakraban selalu terpancar di wajah wajah warga desa Jopu. Selanjutnya kami menurunkan barang masing-masing dari  mobil pick up dan menuju ke rumah orang tua bang Noel (sapaan akrab bang Emanuel), kamipun langsung disambut dan berkenal dengan orang tua serta keluarga besar bang Noel. Kami beristirahat di rumah dan sebagian ada yang langsung bercengkrama dengan warga tetangga bang Noel. 


Kopi dan teh hangat menyambut kedatangan kita, budaya yang sangat ramah dan kental budaya timur dari keluarga bang Noel membuat kami diterima bak kalangan pejabat, terima kasih tak terhingga buat bang Noel dan keluarga atas sambutan dan pelayanannya  serta permohonan maaf kami karena mungkin kedatangan kami membuat keramaian dan hiruk pikuk yang sangat gaduh di desa bang Noel. 

 Setelah meningmati makan sore, kami sudah direncanakan oleh bang Noel untuk berkunjung ke rumah adat yang ada di desa ini,  yang disebut Sa'o ria tenda bewa (Rumah besar).  Setelah banyak bertanya dengan saudaranya bang Noel, ternyata di desa ini merupakan sebagian besar suku Leo Selatan dengan memiliki rumah besar sebagai rumah adat, rumah adat ini digunakan untuk acara-acara adat misalnya ada warga yang meninggal.  Di rumah adat ini tinggal tetua adar atau kepala suku (musalaki) yang merupakan seorang anak  laki anak pertama dari keturunan suku ini. 

Selanjutnya kami di rumah adat ini menyempatkan masuk ke dalam rumah, sebelum masuk ke rumah adat kami diberitau tata cara atau tata adat untuk masuk ke rumah, pertama kita tidak diperbolehkan menyentuh batu yang berdiri di depan rumah, batu ini adalah makam dari sesepuh adat sebelumnya. Selanjutnya saat masuk harus hati2 jangan sampai kepala menyentuh dinding bagian atas karena pintunya yang ukurannya tidak begitu tinggi sehingga harus sangat hati-hati. Setelah di dalam rumah, kita dilarang untuk melihat ke atas, karena ini adalah pantangan tersendiri dari peraturan adat disini. Selanjutnya dari pengamatan saya di dalam rumah ini terdapat  dapur dengan perlengkapan masaknya, selanjutnya ada tempat tidur, ada gong yang digunakan untuk panggilan dalam rehab rumah, dan terdapat tempat tersendiri yang terdapat bakul2 tempat makan dll. Masih keadaan rumah adat ini, terdapat pintu utama dan Pintu samping. Setelah cukup lama di dalam rumah dan bertanya-tanya kami lanjutkan keliling desa. 

Setelah berkeliling Di desa Jopu, ada beberapa point yang membuat saya mendapatkan hal yang baru, yang meliputi dari pengamatan saya sudah banyak bangunan modern, dengan kata lain rumah-rumah yang terbuat dari bata beton, hanya beberapa rumah saja yang masih asli dengan atap dan bentuk khas  adat Jupo. Semoga  tidak terkikis oleh perubahan jaman. Selanjutnya secara pribadi saya baru kali ini dan baru tau juga ternyata di depan rumah rumah warga terdapat bangunan yang saya lihat seperti  teras  yang khas diberi keramik, ternyata itu adalah kuburan keluarga rumah setempat yang ada di depan rumah masing -masing, walaupun ada beberapa rumah, yang kuburannya nampak jelas seperti nisa umumnya di Indonesia. 

Setelah berkeliling desa Jopu kami lanjutkan mandi dengan berendam air panas yang ternyata terletak di belakang desa ini. Suasana kelelahan dan cape petualangan 3 hari ini seakan tersegarkan dengan adanya sumber mata air panas. Hampir sejam lebih kami menghabiskan waktu sore itu di sumber air panas tersebut. Uniknya sumber air ini terdapat 1 cekungan besar sehingga dapat menampung 3 orang dan terdapat 1 cekungan kecil untuk 1 orang, selanjutnya ada 2 sumber mata air panas yang  keluar  batu batuan dalam tanah itu. Tapi keadaan sumber mata ini belum terkelola karena air bagian bawah bercampur langsung dengan air sisa selokan desa, seemoga kedepannya menjadi lebih terkelola dan dapat menjadi magnet wisata ke desa ini.

  Selesai mandi air panas di sumber mata air hangat tersebut kami kembali ke rumah bang Noel, saya senaja terlebih dahulu pulang dengan harapan ingin membilas tubuh setelah berendam di air hangat tersebut. Di dalam kamar mandi terdengar teriakan dan gelak tawa dari teman-teman trip dan warga, setelah saya selesai mandi ternyata pesta gelak tawa tersebut sudah selesai. Dari rekaman video dan cerita teman-teman, ternyata ada adegan histeris sendiri saat teman-teman selesai berendam dari sumber air panas tadi. Ceritanya tentang makan sirih.
 Saat selesai mandi di sumber air panas, teman teman pada antri untuk ke kamar mandi, Bang Erwin, personil kita yang memiliki wajah ganteng putih, kecil pendek dan rambut gondrong (note : dibalik), ternyata sambil menunggu antri, ikut emak-emak yang sedang asik makan sirih di depan rumah, saat itu dia mungkin karena merasakan ada yang beda dengan rasa sirih tersebut, dia berprilaku bak kesurupan, sepontan juga, nenek-nenek yang umurnya sudah hampir 100 tahun, kaget dan melompat melihat tingkah bang Erwin tersebut, kondisi tersebut menjadi keseruan dan kelucuan tersendiri di desa tersebut. Baik bagi warga sekitar, anak- anak dan teman teman trip. Tapi sayang saya tidak menyaksikan langsung. Hiks menikmati cerita dan videonya saja. 

Selanjutnya malampun menjelang kami sibuk dengan obrolan dan cekrama malam itu. Setelah makan malam keseruan ditambah lagi, dari bahasan tentang senam terlebih dahulu sebelum trip,  secara spontan mb Sri dan Bang Erwin goyang salsa bak pasangan serasi sehingga menjadi tontongan malam itu di ruang tengah rumah bang Noel, kondisi tersebut, dinikmati oleh kami dan  sekalian ibu-ibu tetangga bang Noel, melihat kondisi tersebut bang Erwin mengajak ibu-ibu tersebut untuk goyang dengannya, lantas ternyata ibu ibu tersebut berlarian ketakutan, mungkin karena melihat gantengnya bang erwin.. Hehehe

Masuk anginku sembuh setelah  dikerokin bang zaki serta diberi minuman anti sakit perut oleh ibu siuli. Terima kasih semua.. I love you..

Setelah malam kita tidur dan jam 3 berangkat ke kelimutu 

simak perjalanan kami selam di flores di video berikut ini:
Load disqus comments

0 komentar