Friday, January 27, 2017

Sawah Jaring laba-laba di Cancar Pulau Flores sebagai Lambang Persatuan

Ketika tiba di perkampungan ini, aku melihat banyak perbukitan dan hamparan sawah dan perkampungan. Hingga sampailah di salah satu rumah warga, di sanapun tidak begitu spesial. Namun setelah turun dari mobil, terlihat jalan setapak di samping rumah tersebut dengan jalan menanjak, dalam benak saya pasti itu jalan menuju puncak untuk melihat sawah yang lagi blooming di sosial media, sawah jaring laba laba bahasa kerennya field rice spider web

Pada saat itu terlihat langit nampak menggelap, Saya lihat kondisi cuaca ini tidak begitu mendukung, agak berawan mendung, sehingga kita harus cepat cepat ke lokasi yang indah itu, dengan bergegas naik meniti tangga tanah disana, terdengarlah sahutan dari bapak - bapak yang ada di sekitar rumah, tersebut, "jika mau ke atas harus bayar dulu" saya yang terlebih dahulu berangkat ke atas, kembali  turun dan mendekati bapak2 yang sedang duduk di pendopoh samping rumah, dari percakapan teman dengan bapak2 disana, ternyata untuk ke atas harus bayar 15 ribu perorang. Dari cerita teman ke tempat tersebut dulunya tidak bayar, sekarang sudah bayar. Setelah selesai bayar biaya masuk,  segera menanjak ke atas, cukup melelahkan sekitar 10 menanjak kami sudah dapat melihat pemandangan sawah yang membentuk jaring laba-laba. Kami disana langsung beraksi dengan foto-foto dan video, serta salh satu teman juga menggunakan dronenya. 

Saya asik membuat video sendiri ala muter muter serta foto. Dari percakapan kami, terdapat 7 lingkangan jaring laba laba pada pemandangan sawah tersebut. kembali teringat apa yang disampaikan oleh bapak  asli sana, Dari info yang saya terima, tujuan pembuatan sawah dengan bentuk jaring laba laba adalah sebagai simbol persatuan semua warga di daerah ini.  

Rute jalan menuju ke sawah jaring laba laba di cncar ini adalah jika dari Labuhan Bajo adalah menuju ke letak objek wisata yang sangat indah ke Cancar Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur ditempuh dengan kendaraan sekitar 3 jam lebih sekitar 120 kilometer. 

berikut ini video bagaimana keadaan aslinya di lokasi wisata di Manggarai ini.

Read more

Saturday, January 21, 2017

Akhirnya aku Sampai di Muncak Seminung

indahnya pemandangan saat di puncak Gunung Seminung
Alhamdulilah akhirnya kesampaian juga mencapai puncak gunung Seminung. Gunung yang terletak di tepi danau Ranau dan merupakan puncak tertinggi ke dua di Provinsi Lampung, Setelah gunung Pesagi, gunung seminung memiliki ketinggian 1881 mdpl dan terletak di kawasan Bukit Barisan Selatan dan tepat di Tepi Danau Ranau. Gunung ini masuk ke wilayah provinsi Lampung.

Pengalaman mendaki gunung ini bersama mahasiswa Mahepel Unila dengan ketua panitianya adalah Kelvin, peserta yang terdiri sekitar 50 orang dan 25 peserta dari umum, termasuk saya dan sisanya adalah Mahasiswa dari Mahepel Unila.

Saya gabung dalam kegiatan ini pertama mendapatkan informasi dari share di group Backpackers Indonesia chapter lampung, info dalam group bahwa ada penawaran untuk mendaki bersama ke puncak Gunung Seminung yang diadakan oleh Mahepel, kegiatan yang diadakan selama 4 hari 3 malam, pendakian bersama dan sekaligus bakti sosial ke masyarakat sekitar di kawasan wilayah titik pendakian ke puncak Gunung Seminung. 

Dalam kegiatan ini diawali meet bersama 2 hari sebelum berangkat tanggal 17 januari 2017 di gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung,  saat meeting ini disampaikan jadwal dan kesiapan untuk berangkat mendaki, pada kesempatan ini juga disampai secara garis besar profil dari gunung Seminung.

beristrahat di Masjid di kawasan rest area
puncak Bodong Sumber jaya Lampung Barat
Selanjut pada hari H, tepat tanggal 19 januari 2017, kita start berangkat  jam 10an setelah ucaparan pelepasan oleh pembantu dekan 3 FEB Unila. Berangkat ke desa Kota Batu Ogan Kemilir Ulu dengan melalui jalur Lampung Barat, di tempuh kurang lebih 7 jam dengan mengendari bis Unila.  Selama perjalan berhenti beristirahat di Bukit Kemuning selanjutnya meneruskan perjalanan tepat pukul 7 an malam tiba di kota batu, selanjutnya menaiki kapal di danau ranau, menuju ke lokasi titik pendakian yaitu tepatnya di sumber air panas di bawah gunung Seminung di pinggir danau Ranau.

Setelah sampai di lokasi daerah sumber air panas, kami sudah dipersiapkan lokasi pendirian tenda, yaitu di dekat kawasan sumber air panas tersebut, kami lanjut mendirikan tenda, kemudian masak lalu makan, sebelum istirahat tidur kami briefing sebentar untuk persiapan pendakian besok pagi.
Pagi-pagi jam 4, saya sudah bangun, saya siapkan makan untuk sarapan, kemudian subuhan, setelah sambil menunggu jam 6, saya bersama teman satu tenda berinisiatif mandi di air panas, setelah mandi kamipun siap berangkat melakukan pendakian ke puncak gunung Seminung, sekitar jam 7an pagi kami start mendaki setelah warming up. Perjalanan santai kami tempuh melewati perkebunan warga dengan jalur jalan setapak yang dapat dilalui sepeda motor. Kami melewati perkebunan yang menanjak landai, perkebunan yang kami lalui perkebunan campuran  coklat/kakoa,  kopi, lada, kebun buah jambu alpukat yang cukup teduh. Sekitar jam 8an kami sampai di lokasi musholla kami beristirahat sekitar 15 menit, disini kami menambah air dan persiapan membawa air lebih karena dari informasi para pendaki terdahulu, diatas tidak ada lagi sumber air. 

Setelah istirahat cukup, Setelah musholla tersebut kami menemukan sebuah plank pintu rimba, disini kami mulai mendaki yang lebih ekstrim dengan kondisi medan yang terus menanjak dengan tingkat kemiringan yang sangat curam.  Alhasil dengan waktu sekitar 5 jam menempuh rute pendakian yang terus menanjak ini, kami sampai juga di puncak gunung Seminung. Dalam perjalanan setelah pintu rimba kami menemukan 4 tong sampah yang sudah disiapkan oleh pihak pecinta lingkungan, sepanjang perjalanan meliwati rimba hutan tropis yang nampakanya sudah hutan sekunder. Di perjalanan ini beberapa kali menemukan medan yang sangat licin dan curam sehingga harus menguras tenaga lebih.

Setelah sampai di puncak, semua kelelahan semua terbayar sempurna, karena disajikan pemandangan rumput savana 100 meter sebelum puncak dan juga dengan pemandangan ke bawah yaitu danau Ranau yang merupakan danau terbesar kedua di pulau Sumatera setelah danau Toba di Sumatera Utara. Selain itu pemandangan hutan dan juga tampak gunung Pesagi yang menjulang di Kejauhan. Dari informasi teman - teman pendaki yang lain, jika kondisi cerah, kita dapat melihat lautan. Tapi sayang saat kita di puncak ini, setengah mendukung, beberapa kali kabut menutup pandangan saat itu. Tapi rasa puasnya sangat fantastik, akhirnya saya berhasil menaklukan puncak yang disebut-sebut awal sejarah nenek moyang suku-suku yang ada di Lampung dan Sumbagsel.

Di puncak kami abadikan dengan bereksis ria, berfoto, setelah itu kami upacara menaikan bendera Indonesia bersama, kemudian foto bersama, lalu kami makan bersama. Setelah cukup puas diatas, kita kembali berkumpul dan memanjatkan dia syukur kepada Allah SWT, kami lanjutkan turun, start turun kurang lebih jam 4 sore, dengan berjalan turun santainya akhirnya jam 5an kami keluar pintu rimba dan sanpai di mushola. Setelah istirahat setengah jam kami lanjutkan turun hingga jam 6.30 kami sudah sampai di lokasi camp. Setelah sampai saya lanjut mandi berendam air panas, setelah itu masak, makan lalu tidur.
mandi di air panas yang jenih dan mereflesikan tubuh

Kondisi lelah masih terasa hingga pagi terutama bagian paha, betis dan bokong, luar biasa pendakian yang saya rasakan paling melelahkan. Pagi2 saya sudah berendam air panas lagi, hampir sejam saya nikmati berendam di air panas di tepi danau Ranau dan di bawah Kaki Gunung Seminung. Siangnya kami lanjut kegiatan bakti sosial yaitu pembersihan mushola, pembersihan tepi danau dan serah terima kenang-kenangan ke pada pihak pengelolah mushola dan kegiatan yang lainnya.  Selanjutnya sore  kami isi mandi bersama di Danau dan di sumber Air Panas.




Setelah malam kami isi dengan ramah tamah, makan bersama, api unggun dan hiburan bersama dengan nyanyi bersama.

Berikut ini video selama di lokasi, selamat menikmati:

Read more

Monday, January 16, 2017

Pulau Burung dan Sabolo Nusa Tenggara Timur

Tidak bosen bosennya untuk mengeksplore distinasi distinasi wisata yang ada di sekitaran dan di pulau Nusa Bunga / (julukan pulau Flores) Kawasan pulau yang terletak Provinsi Nusa Tenggara Timur. di sini begitu banyak tempat tempat wisata unggulan yang tidak akan membuat kecewa para pengunjung ke sini. dari sekian banyak pulau-pulau eksotik yang ada salh satunya terdapat pulau Sabolo dan Pulau Burung, kedua pulau ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo, NTT. kedua pulau ini memiliki ke khas-an yang begitu menakjubkan.

Pada saat berkunjung kedua pulau ini saya bersama 1 teman diantara kita menaiki ke puncak pulau Sabolo dan berfoto ria di pasir putihnya serta kita menyelam dibawah lautnya. pada saat saya berkunjung ke Pulau ini dalam kondisi kemarau sehingga rumputnya menguning yang indah. Jika anda berkunjung atau berwisata sailing Komodo anda harus berkunjung ke dua pulau ini. 

Di Pulau Sabolo terdapat dermaga yang indah yang terbuat dari kayu dan sepertinya sudah cukup lama dibangun, selain itu di pulau ini terdapat pasir putih yang eksotik dan savana yang menguning pada saat kemarau dan menghijau pada saat musim hujan.  Selain ke eksotikan pulaunya juga memiliki pesona bawah laut yang terdiri flora dan fauna lautnya termasuk terumbu karang yang mempesona.

Sedangkan di  pulau Burung tidak kalah dengan pulau Sabolo memiliki pesona juga, pasir putih dan pesona bawah laut. nama Pulau ini karena banyak burung.

Berikut ini rekaman selama di kedua pulau ini, silahkan disimak. 
Read more

Wednesday, January 11, 2017

Menginjakan Kaki di Pulau Hewan Purba Komodo

Komodo adalah hewan yang bernama ilmiah Varanus Komodoensis masuk dalam kelompok reptil yang memiliki ukuran bisa mencapai 3 meteran serta terdapat racun di ludah yang sangat mematikan. hewan ini juga sering disebut kadal terbesar di dunia yang merupakan hewan indemik asli Indonesia yang hanya mendiami Pulau Komodo dan sekitarnya. Komodo disinyalir sebagai hewan purba satu satunya spesies yang tersisa di muka bumi, gandangkan  hewan yang hidup pada jaman dinosaurus ini memiliki bentuk dan karakter yang khas. Pulau Komodo terletak di sebelah barat Pulau Flores yang masuk ke dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Beberapa waktu lalu saya bersama team trip Jala Mana Nusantara menjelajah Pulau Flores dan Taman Nasional Komodo. Kami memulai trip untuk daerah Kawasan taman Nasional Komodo dari Kota Labuhan Bajo, dari sana kami menyewa kapal untuk melakukan jelajah atau sailing Komodo selama 3 hari 2 malam. kami sempat bermalam di Pulau Komodo di rumah warga. 

Rumah suku Komodo di Pulau Komodo
Bermalam di pulau Komodo yaitu di kampung Komodo, saya merasakan sensasi yang spektakuler, dapat menginjakan kaki dan bercengkrama dengan warga setempat. Sore itu kami tiba di dermaga kampung Komodo, kami langsung ke rumah warga yang notabene adalah pemilik kapal yang kami sewa. Di rumah tersebut kami letekan barang, sebagian langsung rebahan, ada yang langsung mandi dan ada mencari makan di warung, sedangkan saya istirahat sambil berkenalan dengan anak anak di pulau tersebut. "re auli komodo" kami sudah sampai di pulau komodo, ya itulah kalimat bahasa asli komodo yang saya dapatkan dari keakraban kami di sore itu, dari adik-adik tersebut saya mendapatkan cerita bahwa dulu ada kejadian anak kecil yang digigit komodo gara-gara dia bermain setelah memancing, sehingga bau ikan bekas mancing pada anak yang jadi korban tersebut mengundang komodo. sehingga anak tersebut meninggal dunia, tapi cerita itu sudah lama, dan sebagai tanda untuk anak-anak di pulau ini lebih hati-hati. bagaimana tidak mereka hidup satu pulau dengan binatang buas yang memiliki bisa mematikan serta memiliki daya mangsa sangat mengintai. 
 Selanjutnya obrolan dengan adik-adik asli pulau Komodo hanya singkat karena kami harus segeraa berberes. Setelah disuguhi gorengan oleh pemilik rumah kamipun bersepakat  untuk berangkat segera ke pulau Kalong, karena matahari sudah mulai memperlihatkan segera menutup di sebelah barat. 

di depan pulau Kalong
Sore itu kami dari dermaga di kampung Komodo, menuju ke pulau Kalong, pulau yang letaknya tidak begitu jauh dari pulau Komodo, sekitar 10 menit kami pun sudah sampai di pulau Kalong, Di pulau ini kami berencana melihat kawanan kalong/ kelelawar keluar dari sarangnya, akan tetapi mataharipun sudah hampir menutup matanya, kalongpun tidak ada tanda-tandanya, di tempat itu juga ada beberapa kapal para sailing berjejer, dari keramaian kami didekat pulau kalong tersebut, ada beberapa nelayan menyampaikan bahwa "sudah beberapa bulan ini kalonnya sudah tidak ada lagi di pulau ini, mungkin kalongnya sudah pindah ke pulau lain" ya akhirnya niat kita untuk menyaksikan kawanan kalong keluar dari persembunyiannya tidak terpenuhi.  Tapi kami tidak kecewa karena kami saat trip di riung menyaksikan ribuan kawanan kalong di pulau Kelelawar Riung.  cek di artikel berikut.... 


Sore itu kami lanjutkan balik ke Pulau Komodo dan acara kami isi makan malam bersama, ngobrol cantik di dermaga, tidur di rumah warga dan subuh-subuh hounting foto milky way bersama Almarhum Ibnu Haj. 

Menjelang subuh saya dan Almarhum Ibnu Haj melakukan hounting foto milky way di dermaga di kampung Komodo,  subuh di dermaga dan hingga sunsetpun tiba, teman-teman yang lainpun ikut bergabung di pagi itu.

Setelah sarapan kami lanjutkan trip ke shelter tempat atau kawasan Balai Taman Nasional Loh Liang, disana dapat menyaksikan hewan reptil raksasa tersebut di alam liar. setelah tiba di dermaga Balai Taman Nasional Komodo, kami disajikan pemandangan Pantai yang begitu cantik, kami langsung berfoto-foto hingga di depan atau gapura balai tersebut, sampai disana kami langsung regestrasi dan langsung mendapatkan pengarahan oleh bapak Abdur Rahman  yang merupakan salah satu petugas di sini. 

dari pengarahan bapak Abdur Rahman tersebut, di Balai Taman ini terdapat 3 zona tracking yaitu jalur pendek, menengah dan jalur jauh, saat itu kami sepakat mengambil jalur tracking yang pendik karena keterbatasan waktu kami selama trip ini, tujuan adalah bisa dapat melihat langsung hewan Komodo tersebut. selanjutnya kami memulai tracking, selama tracking kami terdiri 10 didampingi oleh 2 petugas/pawang Komodo yaitu pak Abdur Rahman sendiri dan pak  Arifin. 

Selama perjalanan tracking kami banyak mendapatkan informasi dari Abdur Rahman sendiri dan pak  Arifin, tentang Komodo dan apa saja yang harus diperhatikan oleh pengunjung: yaitu:  
1. Saat masuk kawasan ini jika wanita yang sedang masa mentruasi harapa memberi tau ke petugas, karena penciuman Komodo sangat tajam terhadap bau darah, alhamdulillah teman-teman trip waktu itu tidak sedang men. 
2. Para pengunjung agar tidak jauh dari petugas dan juga tidak keluar dari area tracking karena komodo adalah hewan pengintai dan juga anak-anak komodo banyak terdapat di atas-atas pohon, walaupun anakan, anak komodo masih berbahaya karena di ludah sudah memiliki bisa. 
3. Di Pulau Komodo dan pulau sekitarnya seperti pulau Rinca dll terdapat pohon gebang, pohon ini khas di pulau ini dengan ciri-ciri selama hidup sekali berbuah, buah seperti pinang. ternyata pohon ini adalah salah satu tempat tinggal anak komodo. anak komodo tinggal diatas pohon karena komodo adalah termasuk hewan kanibal, jadi anak komodo akan aman jika di atas pohon. ternyata bisa dimakan orang tuanya. 
Pohon Gebang di Pulau Komodo
4. Pada masa bertelur komodo mengelurkan telurnya sehari 1 telor. selama hampir satu bulan dengan jumlah 15-30 butir. komodo meletakan telurnya tersembunyi misalnya bertelur di lobang. telur harus tersebunyi karena komodo adalah bintang kanibal. 
5. Komodo masih muda, pada usia sejak menetas hingga 5 - 6 tahun tingga dan memanjat pohon. 
6. Usia komodo dapat mencapai 60 tahun dan ukuran yang paling panjang  3 meter 15 cm.
7. Di kawasan ini komodo tidak diberi makan seperti di kebun binatang karena memiliki sifat malas jadi tidak diberi makan. komodo harus mencari sendiri, daya jelajah komodo dapat mencapai 18 km, waw luar biasa. 
8. Sanjutnya dari cerita pak Arifin, dari cerita hikayat asal usul komodo yaitu dulu nenek moyang penghuni pulau komodo melahirkan anak kembar yang mana satu manusia,  dan ora sebai (hewan komodo). hingga sekarang penghuni pulau Komodo adalah suku komodo dan hewan Komodo.
9. Komodo adalah hewan individual tidak berkelompok. diman musim kawin pada bulan juni-agustus jantan mencari betina. 2/3 ekor jantan berantem. 
10. Pulau-pulau yang di huni oleh Komodo yaitu . Rinca, Gili Motang, Gili Dasami dan Komodo.
11. Komodo di suku komodo disebut ORA
.
Selain menggali informasi dari petugas kami juga menyaksikan langsung, hewan Komodo sedang berjalan menuju sumber air, komodo tidur, komodo berlari-lari di pantai dan juga menyaksikan anak komodo yang sedang bertengger diatas pohon, di akhir tracking kami menyaksikan pemandangan indah di pantai pulau Komodo di bukit  tentunya tidak lupa berfoto eksis. 
di bukit Cregata Hill Pulau Komodo 
Eksis dulu 
waw pokoknya spektakuler sekali ketika berkunjungi ke Pulau Komodo ini. Allahuakbar..... 
untuk lebih lengkapnya Simak Video berikut ini rekaman kami selama di Pulau komodo 
Read more

Thursday, January 5, 2017

Jangan Menyerah Teruslah Belajar Lihat Mereka?

Jangan menyerah teruslah Belajar dan berusaha, lihat mereka, dari kekurangan namun menjadi potensi yang luar biasa, apalagi kita yang serba kecukupan, mengapa harus bermalasan dan tidak mau berusaha? mungkin inilah salah satu pengantar untuk kegiatan studi lapangan di sekolah Luar Biasa Negeri Metro.

Kegiatan study lapangan mahasiswa Pendidikan Biologi S1 FKIP Universitas Muhammadiyah Metro, semester 7, kegiatan yang berupa kunjungan dan silahturahmi ke  sekolah Luar Biasa Negeri  (SLB) N  Metro yang beralamatkan di jalan Gatot Kaca Sumbe Sari Bantul Metro Selatan. Kegiatan ini merupakan salah satu pemenuhan tugas dalam mata kuliah Genetika Lanjut, yang diampu oleh Dr. Agus Sutanto, M.Pd., dan Kartika Sari, M. Biotech. dilakukan pada hari Kamis 5 Januari 2017. 
Pada kegiatan ini diikuti sekitar 100 mahasiswa Pendidikan Biologi dan beberapa dosen pendamping yaitu Dr. Muhfaroyin, M.T, Dr. Handoko Santoso, M.Pd. , Suharno Zen, M.Sc., dan Rasuane Noor., M.Sc. yang turut berpartisipasi untuk belajar dan lebih dekat dengan masyarakat.
Dalam kegiatan kunjungan ini, setelah briefing di kampus UM Metro,  lanjut berangkat ke Lokasi Sekolah.  Sampainya di sekolah di sambut pihak sekolah dan ceremonial di aula SLB tersebut. Acara di ruangan diawali dengan penampilan, habib, dengan membawakan tembang buat apa susah, begitu di suport oleh mahasiswa yang hadir di saat itu. kemudian acara dipandu oleh ibu pengajar di  SLB
Setelah pembukaan selanjutnya diisi sambutan oleh Dr.Agus Sutanto, M.Si.  Sambutan dari pihak  SLB Negeri Metro Bapak Hamim Muda M.Pd. setelah itu pemamparan tentang profil SLB oleh bapak Zaki muhammadiyah, beliau menyampaikan Kondisi profil sekolah dengan Luas 21000 m persegi, Beroperasi 2004,  Visi, misi, suasana sekolahan dan Jumlah guru 16  PNS dengan jenjang sudah 8 orang S2. Total jumlah siswa skg 105 yg terbagi SDLB 50, SMPLB 32. SMALB 23. disini siswanya terdiri dari Tuna rungu, tuna daksa, tuna netra,dan  autis. 

Setelah itu diisi penampulan fasion show dari para siswa SLB, sentak disana dalam ruangan itu menjadi hesteris karena para mahasiswa perempuan begitu melihat para pragawan dari sekolah tersebut.  fision shon menampilkan pakaian batik asli hasil karya siswa SLB tersebut. 

Selanjutnya setelah acara pembukaan di aula SLB, kemudian dilanjutkan berkunjung ke ruang-ruang kelas di SLB, ke ruang Komputer, ruang Batik dan terakhir ditutup dengan menyanyi bersama dengan organ yang dimainkan oleh siswa netra, yang begitu piawan memain alat musik tersebut. kemudian kita pamitan ke pada keluarga besar sekolah.

foto bersama model dari sekolah SLB N Metro 

Kain Batik hasil karya Siswa SLB Negeri Metro

hasil karya Siswa SLB Negeri Metro

salah satu siswa SLB yang begitu pinter membatik

Salam perpisahan dengan pihak sekolah SLB

Read more

Monday, January 2, 2017

Menutup Tahun di Barat Lampung

Menikmati Sunset di akhir tahun s016 tepatnya di pantai Tanjung Setia
Pesisir Barat Provinsi Lampung.
Berawal dari chat teman yang sama sama satu group di komunitas traveling dunia Couchshurfing  (CS) Lampung, beliau menanyakan "tahun baru kemana?"  ya saya jawab "belum ada agenda" memang saya jarang sekali ada acara spesial buat tahun baru, jika diajak teman ya ikut lihat acara pesta tahun baru, jika tidak biasanya tidur, besok paginya baru nonton tv, menyaksikan meriahnya acara pesta tahun baru di kota kota dunia di layar kaca. Dari obrolan lewat chating tersebut, beliau mengajak untuk bergabung ke trip dia bersama teman-temnanya dari Komunitas Backpacker dunia Lampung. Dari tawaran tersebut, saya sangat tertarik karena tujuan utamanya adalah Pulau Pisang. Akhirnya saya putuskan untuk ikut bergabung ke trip beliau. Dalam benak saya, ingin menikmati quality time dan bersantai-ria di Pulau Pisang saat pergantian tahun adalah hal yang sesuatu bangettt (lebay ala Syarini). Pulau Pisang adalah pulau yang eksotik dengan pasir putih yang luas dan masih alami sekali. Setahun lalu saya berkunjung ke sini bersama teman2 Backpackers Indonesia (BPI) chapter sumatera, kita bersepuluh lupa akan asli kita, karena terhanyut oleh keindahan alam di pulau ini. Dapat di simak di artikel PULAU PISANG MY SHOCK MY ADVENTURE

Setelah beberapa kali diskusi melalui akun whatapps, saya dapat info bahwa  kita akan trip 3 hari 2 malam, dengan tujuan yang tentatif di distinasi-distinasi wisata di Pesisir Barat. Selanjutnya Kita sepakat mempersiapkan alat-alat lapangan, Saya kebagian mempersiapkan peralatan lapangan: panci, cangkir, piring khusus lapangan, tidak  lupa saya membawa hammock, sleeping bag (SB), dan perlengkapan yang lain.

Hari jumat, tanggal 30, pagi-pagi jam 6 sudah siap, lanjut berangkat menuju rumah Ibu yang ternyata yang memiliki hajat untuk berkunjung ke Krui / Pesbar (Pesisir Barat) tersebut, membawa mobil pribadinya dengan sang sopir adalah teman pengundangku dalam trip ini. Dengan menunggu beberapa waktu, sempat sarapan di rumah beliau, kemudian berangkat menuju ke Pesisir Barat, mengikuti jalan via Tanggamus.

Jam 8an start dari kota Bandar lampung menuju Pesisir Barat dengan jalan Lintas Barat Lampung, selamat perjalanan diisi obrolan dengan teman-teman trip yang hanya berjumlah 5 orang plus dengan sopir (teman trip). Dari itu 3 orang lain, saya baru kenal dan baru melihat saat trip ini. Dari obrolan sepanjang jalan didapat info dan juga pengenalan karakter satu sama lainnya,  ternyata mereka tergabung dalam group traveller di facebook, dengan nama group backpacker dunia lampung, yang salah satu adminnya adalah  salah satu diantara mereka. Walau dari obrolan sepanjang jalan kurang begitu sejalan, karena saya lebih menyukai backpaker di dalam negeri, sedangkan mereka lebih cenderung traveler ke luar negeri.  Nampak sekali antara orientasi hoby yang berbeda.  Tapi semua tidak begitu saya ambil pusing karena semua orang punya keinginan dan tujuan hidup berbeda-beda. 

Pantai di Ngambur Pesisir Barat Lampung
Setelah berjam-jam diatas mobil, rute menuju Krui melewati  kabupaten Pesawaran, Pringsewu dan Tanggamus. Dengan kota-kota yang di lewati Gedung Tataan dengan khas masjid Agung dan Bangunan Jembatan ala ala benteng, lanjut kota Pringsewu dengan kemacetan di pusat kota di jalan utama lintas, Kota Gisting yang nampak jelas hawa sejuk dan pemandangan gunung Tanggamus, Kota Agung dengan pemandangan ke arah teluk semaka, Tanjakan Sedayu yang merupakan tanjakan terpanjang di jalan menuju Krui Via Tanggamus, Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sejuk dan menghijau, Bengkunat  dengan berbagai perkebunan kopi, sawit, kelapa, lada dan hutan damar, dan akhirnya kita berhenti di daerah Ngambur tempat penangkaran penyu, kita masuk ke lokasi tersebut dan sempat berfoto2 di pantai tepat depan rumah penakaran penyu tersebut, tapi sayang kita tidak dapat masuk, semua dalam kondisi terkunci, mungkin penjaganya juga lagi libur tahun baru.. Keinginan ikut ala ala pelepasan anak  penyu di pinggir pantai tidak tercapai. Mungkin lain waktu lagi. 

Akhirnya lanjut perjalanan, hingga sampai di pantai melasti, sama di pantai ini, kita tektok, datang lihat, foto, lanjut berangkat lagi. Hingga akhirnya sampai di Pantai Tanjung Setia.  Di sini kita lihat-lihat cottage hingga akhirnya ke cottage Otopia, yang merupakan langganan setiap tahun selalu menginap di penginapan ini. Setelah ngobrol singkat dengan pemilik penginapan, akhirnya kita diusahakan dapat satu kamar dengan ekstra bad, yang sebelumnya dibilang sudah penuh, karena diboking untuk acara tahun baru, tapi kita dapT juga satu kamar untuk bermalam saat tahun baru 2017. Selanjutnya ketika dipenginapan ini dari obrolan tersebut untuk bermalam, hingga tercetuslah dari pemilik hajat trip, untuk lanjut ke Danau Ranau, karena beliau ingin melihat Danau Ranau dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, tapi tidak berkeinginan ke Pulau Pisang.  Perasaan dalam hati langsung desperates, karena niat mau ke pulau Pisang akhirnya tidak jadi. Ya saya dengan berbesar hati harus menelan ludah saja. Harapan ingin liburan ala ala di pantai berpasir puyih serta laut yang eksotik di Pulau nan Indah itu tidak jadi.

Sore itu juga, kita berangkat ke area pegunungan menuju Kota Liwa. Kurang lebih 1 jam-an, melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Sore kita berhenti di Kota Lewat tepatnya di Mesjid komplek Pemda Lampung Barat. Menjalankan kewajiban sebagai umat beragama Islam adalah keharusan, sholat zuhur yang sempat tertunda terpaksa digabung dengan ashar. Jamak takhir. Selesai sholat, kita kembali berembuk, rencana perjalanan. Setelah diskusi singkat, kita putuskan untuk bermalam di Kota Liwa Saja karena kondisi sudah sore serta penginapan di sekitar danau Ranau relatif sedikit dan takut penuh atau mahal.

Setelah mengumpulkan banyak informasi, termasuk menelpon kakakku yg domisi Liwa, sempat menelpon ke penginapan mas Eka (fotografer Lampung) tetapi penuh, terus kita ke hotel mutiara, tapi cukup mahal, akhirnya ke penginapan di dekat simpang Sendar, pengipan Rosa. Penginapan ini cukup murah dan cocok buat backpacker yang berkunjung ke Liwa, Lampung Barat. Harga penginapan paling murah 150 semalam, kamar mandi di dalam, tidak pake ac karena sudah di pegunungan. Akhirnya malamnya kita di Kota Liwa, malam diisi dengan makan di depan tugu Kota Liwa dan berfoto2 di taman Ham Tebiu.
Kabut pagi di Liwa Kota Berbunga
Setelah subuh kita, sudah siap untuk berangkat menuju Danau Ranau, namun tertunda satu jam lagi karena para ratu belum bangun.  Sambil menunggu kita bedua menikmati kopi rabusta khas Lampung Barat disela-sela sejuknya hawa pagi pegunungan.

Kebun Raya Liwa di Kota Liwa
Sekitar jam 9, kita sudah di Danau Ranau tepatnya di Wisma Pusri, kita hanya foto-foto, makan pagi, lalu berangkat lagi ke Liwa, di Liwa sempat foto di Gapuran Kebun Raya Liwa kemudian lanjut membeli oleh oleh khas Lampung Barat yaitu Kopi dan kue Tat.  Kemudia lanjut menuju ke krui, sebelum sampai di Krui mampir sebentar ke Selter Taman Nasional Bukit Barisan selatan di Kubu Perahu.
Setelah di Krui, kita menikmati sedapnya bakso ikan yang ada di depan pintu masuk objek wisata pantai Labuhan Jukung, selanjutnya bersantai ria di pantai ini kemudian lanjut ke Pantai Tanjung Setia.
Liwa Kota Berbunga ibu kota Kabupaten Lampung Barat

Pantai tanjung Setia
Sore-sore, saya nikmati dengan mengambil foto ombok dan orang yang lagi mancing di pantai ini, hingga menjelang magrib. Pada saat saya berkunjung ke Pantai ini, pantai yang terkenal dengan surganya bagi para surfer/ peselancar, ternyata sepi oleh para pelancong beberapa kali say berkunjung kesini selalu dipadati oleh para peselancar dari luar negeri, akan tetapi sore ini sepi dan nyaris tidak ada wisatawan mancanegara. Pantai ini hanya saya temukan beberapa para nelayan lokal yang sedang asik memancing di tepi pantai serta ramainya wisatawan lokal yang sedang berlibur dengan keluarga atau group masing-masing. bebrapa tahun sebelumnya pantai ini hanya ramai oleh wisman tetapi saat ini sudah ramai oleh pengunjung lokal.

Setelah sore itu saya asik mengabadikan foto dan menikmati sunset di pantai ini, tidak bosen-bosennya saya katanya disini surganya golden sunset di pantai. simak artikel MENIKMATI GOLDEN SUNSET DI PANTAI TANJUNG SETIA. Setelah magrib kami menikmati makan malam di cottage otopia dan malam tahun baru di cottage ini juga sudah penuh oleh para tamu, beberapa pemuda memasang tenda di depan cottage dan ada yang mempersiapkan BBQ serta pihak cottage sudah mempersiapkan organ tunggal. Tapi berbeda dengan saya, saya pasang hummock saya di depan pintu lalu saya tidur hingga terdengar suara petasan.

Detik detik pergantian tahunpun tidak ada yang istimewa, kembang apipun tidak begitu banyak. Tetapi suara organ semakin membuat kuping rasa kurang nyaman, saya kembali tidur hingga subuhpun tiba.

Setelah pagi, kitapun sudah persiapkan untuk pulang ke Bandar Lampung..
Begitulah cerita pergantian tahun 2017 yang saya rasakan, jauh api di atas panggang..
Semua adalah perjalanan..

menimati suasana pagi di Pantai Tanjung Setia Pesisir Barat Lampung 

Serunya Hummock-an di Pantai Melasti yang banyak pohon kelapa
berikut ini Video amatari di Trip selama pergantian akhir tahun 2016 menuju 2017
Read more