Sunday, March 26, 2017

Ceritaku Potensi Kawah Gunung Sekincau Lampung Barat

Gunung Sekincau adalah salah satu Gunung yang ada di Kabupaten Lampung Barat, gunung ini jika dari jalan raya liwa / lintas sumatera tampak ke arah barat sejak memasuki kecamatan Way Tenong. Tetapi akan tampak jelas ketika telah sampai di kecamatan Sekincau, karena kecamatan ini langsung terletak paling dekat atau bawah gunung Sekincau. Nampak dari jauh gunung ini tidak begitu megah menjulang, tetapi cukup tinggi. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1881 mdpl merupakan bagian dari gugusan pegunungan Bukit Barisan Selatan. Di sekitaran ini banyak terlihat puncak puncak yg lain seperti Gunung Subhanallah, bukit Rigis, gunung rindingan dan lainnya.


Kecamatan Sekincau terkenal dengan penghasil sayuran atau bahkan sentral sayuran di Lampung selain itu terkenal sebagai wilayah paling dingin di Lampung Barat karena kecamatan ini paling dekat dengan puncak gunung Sekincau. Kecamatan Sekincau hampir sama dengan kecamatan Way Tenong yang merupakan penduduknya majemuk terdiri dari banyak suku bangsa, dengan profesi penduduk sebagai petani kopi dan sayuran. Wahh ceritanya udah menjalar kemana-mana nih.. Yuhuu yang saya ulas saat ini bukan penduduknya tetapi keadaan alamnya.. Yaitu alam kawah dari gunung Sekincau..  kawah atau sumber panas bumi di masyarakat setempat menyebutnya "Gemburak", ada juga menyebutnya "air panas"
Yaa,, saya menyebut tempat ini kawah Gunung Sekincau karena saat saya berkunjung ke Kawah Putih dan gunung Tangkuban Perahu, gumbarak di daerah Gunung Sekincau ini mirip sekali dengan kedua tempat itu. Sehingga saat itu saya sudah berasumsi itu adalah kawah Gunung Sekincau karena letaknya pas di kaki Gunung Sekincau sebelah Selatan. Sedangkan sebelah barat dan utara gunung sekincau adalah Kota Sekincaunya. Sebelah timur adalah kecamatan Way Tenong.

Untuk mencapai kawah atau geotermal, gemburak, panas bumi di gunung Sekincau ini melalui Desa Sukananti Kecamatan Way Tenong Lanjut Ke Air Putih Dua, terus ke talang Bukit, di talang bukit lanjut hingga ke kawah.

Dari jelajah yang perna saya jalani aliran sumber air panas atau geo termal ini menyatu dengan sungai Air Abang selanjutnya ke sungai Air Kelat dan akhirnya menyatu dengan Air Hitam hingga menyatu dengan sungai Way Besai. Dari cerita kakekku almarhum Baharudin "karena aliran dari gumbarak ini menyebabkan sungai-sungai berubah warna dan disebut oleh masyarakat pendahulu", sehingga di sekitaran Way Tenong terkenal dengn sebutan air hitam, air putih, air kelat, air abang dan lainnya. Itulah cikal bakal nama-nama air disana.
Berita tentang kawah Gunung Sekincau belum begitu banyak di media media sosial, 2 hari saya baru melihat foto -foto di akun instagram  fotografer profesional Lampung Barat, mas Eka Fendiaspara, memposting foto-foto Kawah gunung Sekincau ini, dengan tema "Geo thermal Sekincau Lampung Barat, menampilkan foto yang sangat indah dan hamparan kawah yang luas. 
selain itu sebenarnya saya sempat memposting foto-foto  tempat ini, sekitar 7 tahunan lalu, dengan kamera tangan type lama saya abadikan, lalu saya publish di blog bunga rampai saya dengan link wanennoor.blogspot com. 

Saya berkunjung ke sana untuk kesekian kaliannya terakhir pada saat itu saya diajak rekan yang bekerja di Tempo untuk berkunjung ke sumber panas bumi yang ada di Lampung Barat. Saya langsung tawarkan untuk berkunjung ke Gemburak /Kawah Gunung Sekincau,  alasan saat itu karena aksesnya paling dekat dengan kampungku serta mudah untuk dijangkau.  Sedangkan jika ke Suoh medannya sangat ekstrim dan belum sebagus pada saat ini. Akhirnya kami berangkat berdua dengan menyewa ojek gunung yang ada di desa Sukananti Kecamatan Way Tenong. Saat itu keadaannya sudah berubah sejak saya berkunjung saat masih sekolah dan kuliah.

Pada saat saya berkunjung masa sekolah dulu, terdapat jalan mobil karena pada saat itu mobil hardtop hilir mudik mengakut kayu di hutan sekitaran kawah ini, banyak sekali pekerja mengangkut dan memotong kayu kayu besar. Saat itu saya tidak paham, tentang illegal loging dan menebangan liar, ya masih muda masih senang sanangnya bermain belum mengerti apa itu global warming dan lainnya. Dulu saya sangat senang sekali menikmati bermain di kayu kayu besar yang sudah ditebang kemudian dibuat kayu papan dan balok balok. Bahkan saya dan teman-teman mengambil jamur kayu yang tumbuh dibekas penebangan itu untuk dibawa pulang dan enak sekali dimasak pepes oleh ibu. Coba dehh pepes jamur kayu pupuran .. Hehehe...

Selanjut masih masa belia itu, saya sering dilarang oleh kakek dan ibu jika bermain sekitar hutan karena banyak gajah dan hewan buas lainnya, jika pengalaman melihat kawanan gajah liar, saya sering diam diam dengan kawan main semasa kecil main ke pinggir kampung /pinggir hutan melihat kerumunan gajah diseberang bukit sedang berjalan dan pernah juGa  lihat sedang tidur tiduran di kebon kopi. Saat itu jejak dan kotoran  gajah sering sekali ditemukan dipinggir-pinggir hutan bahkan di pinggir kampung. Sering sekali ada suara suara warga yang menghalau dan mengusir gajah. Ya masa masa itu sekarang membuat kangen.. Selain itu serta perna menyaksikan juga hutan sekitar kawah ini dan gunung Sekincau terbakar, jika malam terlihat sekali nyala api di rumah. Ketika itu perba ikut melihat para warga memadamkan api di hutan tersebut, akhirnya pulang pulang dimarah kakek.

Nah pada saat saya berkunjung 7 tahunan lalu kondisi sudah berubah, jalan mobil sudah tidak ada lagi, jalan setapakpun sudah susah, kami mengira ngira saja jalan yang perna ada, semua tertutup semak ilalang, tapi akhirnya sampai juga ke pusat kawah ini, pada saat itu seperti sudah jarang sekali yang mengunjungi kawah ini, dari jejak yang kami lihat terdapat banyak jejak babi hutan dan beberapa jejak kali kucing besar.

Saat melihat postingan Eka Fendiaspara tersebut saya berkeinginan untuk ikut serta memblow up lokasi ini menjadi sebagai tempat kunjungan wisata yang kekinian. Seperti yang sudah terkenal yaitu Kawah Putih dan Tangkuban Gunung Perahu di Bandung. Pengalaman saya disini, kawahnya cukup luas dan memiliki pemandangan yang bagus. Apalagi para pecinta adventure. Jika banyak yang datang otomatis secara berlahan kegiatan ekonomi kecil akan muncul misalnya warung kecil, pedagang minuman dan lain lainnya.

Rumor yang perna saya dengar dari warga Way Tenong bahwa perna akan dibangun pusat geo termal / panas bumi di daerah ini, bahkan pemangku adat dan pejabat desa sudah perna dikumpulkan untuk mendiskusikan pembangunan tersebut, tetapi sampai sekarang saya tidak mendapatkan kabar berita yang jelas. Ya semoga semua dibangun untuk kemajuan dan kemakmuran semua tapi bukan untuk kalangan tertentu saja.  Bahkan ditakutkan jadi miris, ada pembangunan suatu tempat dengan untung yang luar biasa, tetapi masyarakat setempat malah miskin, semoga saja hal itu tidak terjadi lagi.
Semoga masyarakan semakin maju, makmur, cerdas dan berwawasan lingkungan. 

Yuk kita kenalkan wilayah kita bahwa kita cinta negeri, bukankah ada selogan "everyone can be ambasador tourism" setiap orang dapat menjadi duta wisata. Ya dengan cara bercerita ke orang lain, berbagi/share di media sosial : facebook, instagram, twitter, path, whatapp, dan lainnya..
Load disqus comments

4 komentar