Thursday, July 20, 2017

Semalam di Pulau Kubur Menikmati Ribuan Permata

Perjalanan dari rumah tidak begitu jauh dengan menggunakan kendaraan motor, dari Kedaton Kota Bandar Lampung ke arah pantai Queen Artha, tidak sampai ke pantai ini tapi tepatnya berhenti di Lempasing, di sini kita masuk ke daerah Pelelangan ikan, sambil mengikuti motor Abas (teman yang mengajak untuk camping/ kemah di pulau) ternyata kita tepat parkir depan POM Bensin khusus kapal di tepi pantai Lempasing, persis samping dermaga Pelelangan Ikan TPI, Lempasing. Dalam selang waktu kita masuk ke kantor POM tersebut, ternyata disana sudah ada mas Yudistira, kita kenalan dan langsung cair saat itu juga, sosok yang supel dan humoris.

Kami yang sebelumnya tergabung dalam group HORE Lampung yang menjelajah PUNCAK SEMERU, saat itu kita ber-sepuluh, setelah sekian lama pulang dari kegiatan mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut, kita di dalam group whatapps, berkeinginan reuni dan camping ceria, sehingga sampailah pada saat ini untuk camping ke pulau Kubur, Serem ya dengarnya pulau kubur, ada apa di pulau itu kok namanya pulau kubur.  so, ternta yang bisa join atau gabung untuk kemah ceria group Hore ternyata hanya sebagian saja dimana : Abas, Amel, Amry, Danu, dan saya Razone. sedangkan sebagian lainnya : Nata, Taufiq, Sigit, Ricky dan Agus tidak dapat ikut dalam acara kemah ini. sehingga untuk melengkapi kekurangan tersebut Abas mengajak teman yang lain yaitu : Yudistira, Agung Prastowo dan Indra, ternyata mereka adalah para fotografer yang sudah tidak asing lagi di Lampung. sayapun mengenal Agungpun sudah sejak lama, sejak kita sama-sama hoby badminton di gor Bataranila, sehingga sempat terucap diantara kami "ternyata dunia ini sempit" hehehe.. teman lama yang bertemu dari teman yang lain.

Selanjutnya setelah setengah jam, kami menunggu dan mempersiapkan perbekalan untuk menyeberang pulau, motor kita titipkan di Kantor POM bensin tersebut hingga semuanya siap, kemudian menyeberang menggunakan kapal. dalam kondisi gerimis kita menuju pulau, sekitar 10 menit kitapun sudah berada di Pulau tersebut. kondisi gerimis makin deras kita bergegas turun menuju tempat berteduh, di pulau ini ternyata sudah banyak pondokan sehingga terlindung dari basah air hujan.

Sesaat kita sempat menunggu hujan redah, tetapi tidak ada tanda-tanda akan reda, namun gelappun mulai menjemput sehingga kita sepakat untuk mendirikan tenda di dalam pondokan, sehingga tenda tidak akan basah dan tidak kotor, hehehe.. Sebelumnya petugas pulau menyambangi kita, kita sampaikan bahwa kita akan menginap di pulau semalam, dan taripnya ternyata perorang 20 ribu. setelah petugas berlalu, kita sibuk mendirikan tenda, kondisi hujan rintik, angin yang cukup kencang terus dengan gigitan nyamuk yang silih berganti menambah suasana menjelang malam itu semakin pekat.

Kondisi perutpun mulai memanggil, sehingga kamipun berbagi tugas, ada yang masak, ada yang bakar ikan dan ada yang mempersiapkan segala sesuatunya. alhasil malam makin larut kitapun menikmati santapan malam itu : nasi putih, ikan bakar, Cumi asam manis, Kerang saus tiram serta bakaran ubi singkong.

Setelah makan malam, hujanpun berhenti, misi untuk hounting foto berlanjut yang digagags Abas dkk terlaksana jua, dari itu  kita menuju dermaga dan mempersiapkan segala sesuatunya, dari tenda, api steel wool dan perlengkapan lainnya. saya yang saat itu hanya mencoba ikut-ikutan mendapatkan pengalaman baru dalam mengabadikan foto dengan menggunakan api steel wool, hasilnyapun cukup memuaskan.  sementara Danu dan sang kekasih menjadi model dadakan sekaligus preweding cabutan..hehehe. simak fotonya..



Setelah cukup jenuh kitapun sibuk dengan kegiatan masing-masing, saya masih mencoba mengabadikan foto-foto dikala malam hari di pulau ini. Dari tepi pantai sekitaran Lempasing pulau ini terlihat jelas, selain dari pantai Queen Artha begitu juga dari pantai Puri Gading, pantaiTirtayasa dan pantai Duta Wisata, sangat jelas pulaunya bahkan untuk menuju ke pulau Kubur ini sering dijangkau melalui pantai-pantai tersebut. di pulau ini kala malam hari begitu indah menikmati lampu lampung berkelipan di kota Bandar Lampung. sehingga wajar saja kalau sekarang pulau ini dinamakan pulau Permata.

Lewat dini hari kamipun istirahat di tenda masing-masing, tidak begitu terasa tidur di pulau ini karena hanya beberapa jam saja tidurnya. Setelah subuh saya kembali berpacu dengan masakan, karena akan lebih seru di pagi hari kita menikmati makanan sea food di dermaga pulau ini. alhasil pagi itu kami makan besar di dermaga pulau permata ini.

Mengapa dinamakan Pulau Kubur ? 
Pulau ini dulu dikenal dengan nama pulau Kubur, tapi sekarang sudah berganti nama menjadi pulau Permata. alasan penggantian nama ini karena, jika di dengar pulau kubur terkesan pulau yang serem dan angker, sedangkan pulau ini cukup indah dan asri, sehingga terkesan bertolak belakang, sehingga sekarang nama dipopulerkan dengan sebutan pulau PERMATA. saya pertama kali berkunjung ke pulau ini tahun 2008, saat itu saya melihat ada sebuah kuburan di pulau ini, sehingga banyak orang menyebutnya pulau kubur. 

Pulau ini sangat cocok buat camping, acara liburan keluarga, berenang, preweding dan lainya. 

Berikut ini dokumentasi kami selama di pulau Permata ini 




Load disqus comments

0 komentar