Sunday, September 10, 2017

Way Kambas : Rumah Sahabat Jumbo


Setelah acara Karnaval Festival Krakatau 2017 di Kota Bandar Lampung, sahabat backpacker dari Jawa Timur dan Banten menginginkan berkunjung ke tempat sudah lama menjadi icon Lampung, ya Mereka ingin berkunjung ke Way Kambas. 

Hari pada saat menyaksikan karnaval dalam dengan tema Lampung Cultur and Tapis Carnival yang merupakan rangkaian acara topFestival Krakatau tahun 2017, para penjelajah Indonesia mas Zaqi dan Mas Rahmad, dalam obrolannya mereka bedua sudah sepakat ingin pergi ke Way Kambas.

"untuk mengisi hari minggu setelah karnaval, kita pergi ke Way Kambas aja, gimana bang Razone? Rute bisa ngga di jangkau?" ujar dari mas Zaqi teman petualang dari Banten. 
lalu saya jawab: "tentu bisa mas," bisa naik motor atau mobil sudaj sampai ke lokasi, enaknya kita berangkat pagi aja, saya belum perna ke Way Kambas via bis Tran Lampung /damri, gimana kita naik bis aja? "


Akhirnya kita bertiga sepakat untuk berkunjung  ke Tempat konservasi gajah di Way Kambas dengan menggunakan kendaraan umum yaitu bis tran Lampung / damri.

Tepat sekitar setahun yang lalu pemerintah membuka rute baru bis trans Lampung /damri dari terminal Rajabasa ke Way Kambas. Banyak cerita di artikel teman blogger yang menikmati perjalanan via bis menuju ke taman konservasi gajah Way Kambas yang dulu sering disebut PLG (pusat pelatihan gajah). Sayapun sempat membaca brosur tentang trayek baru ke Way Kambas ini.

Malam sebelum berangkat saya sempat mencari informasi di group tapis Blogger dan group Backpakers Indonesia (BPI) Lampung.  Sebagian memberitau bahwa bisnya berangkat pagi jam 6.  Sampai akhirnya diskusi inten dengan Alan, sahabat backpacker yang menggeluti dunia fotografi dan drone ini, bahwa awal tahun ini dia baru saja dari Way Kambas, saat itu dia berdua berkunjung ke sana, akan tetapi isi bisnya hanya mereka berdua dan saat itupun, sopirnya sudah menyampaikan bahwa bis masuk langsung ke Way Kambas sudah jarang, hanya sampai ke Andatu saja. Saat itu Alan menyampaikan "abang coba cari info terbaru untuk rute Bis ke Way Kambas, takutnya nanti abang repot di jalan hanya sampai setengah jalan"

Ternyata info dari Alan sangat bermanfaat buat kami dan untuk merencanakan planning ke dua, jika tidak ada bis langsung lagi ke Way Kambas.  Namun info tersebut membuat saya pisimis untuk berangkat ke Way Kambas via bis Damri, saat itu sudah malam, bingung mau cari informasi darimana. Selama ini saya ke Way Kambas selalu menggunakan kendaraan pribadi baik motoran atau sewa mobil. Rencana akhirnya kita pagi ke terminal Rajabasa untuk bertanya ke pihak damri dan jika memang tidak ada kita ke rencana kedua dengan motoran.

Pagi itu tepat jam 6, kita tiba di terminal rajabasa, saat itu saya berdua dengan mas Rahmad naik angkot biru dari pasar Koga ke terminal Rajabasa, sedangkan mas Zaqi diantar motor oleh Aril.

RUTE DAMRI LANGSUNG MASUK WAY KAMBAS SUDAH DIALIHKAN
Setelah tiba di Terminal Rajabasa, dari penjelasan sopir dan kru bus tran tersebut:  ternyata memang benar trayek atau rute bis Trans-Lampung / Damri ke Way Kambas sudah tidak ada lagi, akan tetapi sudah dialihkan ke Labuhan Maringgai. 

Intinya mobil bis tersebut tetap melewati jalan menuju ke Way Kambas, sampai ke Andatu saja, tidak sampai masuk ke dalam Taman Nasional Way Kambas. Setelah berhenti di Andatu, para pengunjung ingin ke Way Kambas menyewa atau menaik ojek, hingga sampai ke dalam pusat konservasi gajah.  Saat itu juga pak sopir menyampaikan harga ojeknya kisaran 20 ribu tapi sesuai nego dengan tukang ojeknya juga. Sedangkan ongkos bis tran / damri dari Rajabasa ke Andatu seharga 30 ribu per orang.


Setelah dari penyampaian pak sopir dan kru mobil bis damri tersebut, kita sepakat ke planning ke dua yaitu tetap berangkat ke Way Kambas dengan menggunakan motor. Tetapi disini kita mendapatkan kendala kita berjumlah 3 orang sedangkan motor hanya 1 buah dan juga kita harus balik ke rumah lagi untuk mengambil motor. Setelah beberapa menit diskusi akhirnya Aril setuju untuk meminjamkan motornya, setelah antarkan dia ke Hotel tempat kegiatan seminar yang dia ikuti hari itu. Kitapun pulang ke rumah ke kedaton dengan menaiki angkot.

Setelah istirahat dan sarapan pagi kita jam 9 berangkat menuju Way Kambas dengan jalur alternatif Bandar Lampung - Kota Metro, dengan jalur Way Halim - Tanjung Senang - Karang Anyer - Metro Kibang Hingga kota Metro. 

Di Metro Kibang kita menyambangi teman untuk ikut ke trip kita sehingga kita berjumlah 4 orang. Lanjut dari Kota Metro kita langsung ke arah lampung timur, Pekalongan - Sukadana - hingga ke Andatu, dari Andatu masuk ke arah . Di pintu gerbang masuk Taman Nasional Way Kambas, kita berhenti untuk regestrasi dimana biaya masuk perorang Rp 10 ribu rupiah. 

Setelah itu kita ke arah kanan menuju ke kawasan konservasi gajah. Sepanjang jalan di kawasan ini kita menikmati hutan sekunder dalam keadaan sepi banyak menemukan monyet, burung dan ayam hutan.


Setelah sampai di kawasan Konservasi gajah, kami langsung untuk parkir motor dengan biaya 5 ribu per motor, selanjutnya menuju ke mushola untuk sholat juhur, kemudian setelah sholat sudah terdengar pengumuman "akan segera digelar atraksi gajah silahkan para pengunjung untuk menuju ke arah kiri tempat atraksi tersebut" 

Kitapun saat itu tidak begitu tertarik untuk melihat atraksi tersebut, kita ingin jalan jalan di area konservasi tersebut. Di area ini terdapat juga bagi pengunjung untuk menaiki gajah. Selain itu juga ada layanan yang ingin naik gajah ke area padang rumput dan hutan.

Pada saat itu kita langsung berjalan ke arah kandang gajah, dimana pada siang itu gajah yang ada di kandang hanya beberapa ekor saja sedangkan gajah lain sedangkan dipadangkan. Kitapun berjalan-jalan di area mess pawang hingga ke kolam pemandian gajah.

Kondisi siang yang panas, angin berhembus sepoi sepoi membuat kita terlena untuk terlelap di pondokan tepi kolam tersebut.  Tidak tau berapa menit kita tertidur di tepi kolam pemandian gajah tersebut. Hingga terdengar suara ramai, ternyata di samping kolam tersebut.

Foto Bersama Gajah dan menyaksikan Gajah Mandi
Saat itu lagi ramai para pengunjung untuk berfoto bersama gajah. Mereka berfoto bersama gajah. Ternyata syarat untuk berfoto dengan gajah harus memberi imbalan makanan buat gajah seperti pisang, daun kelapa dan makanan gajah lainnya atau memberi uang ke pada gajah tersebut selanjutnya gajah memberikan uangnya kepada pawangnya melalui belalainya. Cukup banyak para pengunjung yang berfoto bersama gajah, terutama anak anak, ada diantara mereka takut tapi mau, ada juga yang berani memegang belalai gajah langsung.

Setelah cukup banyak para pengunjung asik berfoto foto dengan gajah,  para pengunjung disajikan pemandangan yang cukup seru yaitu dengan menyaksikan gajah yang pulang dari padang atau penggebalaan langsung mandi di kolam pemandian tersebut. Sebelum mandi, gajah disuruh minum di kolam tampungan di sebelah seberang kolam tersebut. Selanjutnya mandi dengan memasuki diri di dalam kolam tersebut.. Ada yang lucu dalam kegiatan gajah mandi tersebut, ada gajah yang kecil atau anak gajah mandi bersama gajah besar atau induknya, dalam mandi tersebut gajah kecil tersebut tenggelam dan muncul lagi dengan menempel di tubuh induknya tersebut. Pemandangan yang unik tersebut menjadi hiburan bagi pengunjung. 

Terkadang ada gajah yang lagi mandi mendekati pengunjung dengan menjulurkan belalainya, ada para pengunjung mengerti memberikan makanan buat gajah, dan ada juga memberikan uang kepada belalai gajah, yang kemudian diambil oleh pawangnya. Saat itu sayapun ikut memberikan uang kepada gajah tersebut karena saya tidak memiliki makanan gajah. Namun saat saya memberikan uang kepada gajah ternyata uangnya langsung ditelan oleh gajah... Saya sentak bersama pengunjung yang lain "loh kok dimakan" ternyata pawangnya terlambat memberi kode kepada gajahnya, mungkin dikira gajah adalah makanan sehingga langsung ditelan.. Ya sudah tidak apa-apa, vitamin buat gajah.. Hahahaha...


Hari makin sore, gajahpun kian banyak pulang dari penggembalaannya, selanjutnya mandi, tapi kita harus bergegas pulang karena takut kemalaman dijalan. 

Setelah sholat ashar  jam 4.30 WIB kita lanjut untuk siap pulang keluar di area konservasi gajah tersebut, area parkiranpun sudah tinggal motor kita, para pengunjung sudah sepi, para pedagangpun sudah banyak berberes pulang. Selanjutnya kita tancap gas menuju kota Metro.  Perjalanan satu jam setengah kita tiba di Kota Metro, magriban di masjid Taqwa Metro. Kemudian kita wisata kuliner di Kota Metro dan bermalam di Kota Metro.
Load disqus comments

0 komentar