loading...

Thursday, May 18, 2017

Pengalaman Turun dari Ranukumbolo ke Bandara Abdul Rahman Saleh Malang

Siang itu setelah membereskan peralatan camping dan perlengkapan pribadi, menjelang jam 12 kami isi berfoto -foto terakhir, di tepi danau suci Ranukumbolo, tidak lupa dengan latar tanjakan cinta. Kondisi yang tidak begitu ramai sehingga sangat puas sekali foto foto sendiri di danau ini.


 


Setelah cukup banyak foto-foto di area camping ground di bawah tanjakan cinta, kami lanjut berdoa dan terus lanjut pacu perjalanan menuju Ranupane, perjalanan menanjak dan menurun yang mengucur keringat, sekali kali saya abadikan alam sekitar dengan kamera. Sekitar beberapa jarak kami istirahat dalam hitungan detik. Post 4 kami istirahat dan menikmati pemandangan kebawah hamparan danau Ranukumbolo, di post ini juga kami pesta belanja buah semangka dan gorengan yang satu potongnya dengan harga 2.500 rupiah. Setelah cukup kami lanjutkan perjalanan menanjak dan menurun ke post 3. Di post 3 kami tidak berhenti tapi lanjut menuju ke post 2 dan terus ke post 1. Di post 1, hujanpun mulai turun, kami kembali menikmati jualan penduduk di post ini.

Setelah sedikit diskusi, akhirnya kami sepakat, kalau saya turun dulu karena saya memburu tebengan untuk turun ke pasar Tumpang. Jam 2an saya start dari post 1 turun ke menuju Ranupane, kondisi hujan saya berpacu turun, tentunya dengan ponco tetap terjaga kering perlengkapan. Di perjalanan saya susurun jalan setapak dan ada yang sudah dipaping, dengan sedikit memperkencang jalan kaki serta berlari kecil saya pacu agar cepat sampai dibawah. Saat itu karena kondisi hujan sepanjang perjalanan saya tidak berpapasan dengan siapapun, barulah tepat dibatas perkebunan sayuran baru bertemu 1 group yang akan mendaki,. Itupun hujan sudah reda.  Menjelang jam 3 akhirnya saya tiba di shalter Ranupane, kondisi tidak begitu rame karena pendakipun lagi sepi. Saya membersihkan diri dan berganti pakaian, saya lanjut ke parkiran.
Di parkiran saya hanya melihat 3 mobil jip dan 1 truk yang parkir, saya disapa oleh masyarakat, tujuan kemana,  ditawari ojek, karena biaya ojek 150 ribu, saya tetap memilih untuk menunggu dan menebeng dengan rombongan yang akan turun. Cukup laman saya menunggu diparkiran, suhu dinginpun mulai menerpa, saya gunakan jaket gunung dan berdiang di perapian yang dinyalakan warga di parkiran tersebut. hingga 1 jaman menunggu tidak ada tanda para pendaki yang turun, setelah lewat jam 5an baru ada, rombongan cukup banyak sekitar 18 orang, saya langsung menyamperi rombongan tersebut dan diizikan untuk gabung turun ke pasar tumpang menggunakan mobil truck, sedangkan 3 mobil jip yang tersisa akan menuju bromo.  Akhirnya saya turun naik truk dengan ongkos 50 ribu berhenti di alun-alun pasar tumpang.

Pasar tumpang, saat itu menunjukan pukul 8malam, akhirnya saya berdiskusi dengan group pendaki dari bakasi bahwa mereka menyewa mobil angkot menuju ke stasiun kota malang. Akhirnya saya ikut gabung dengan mereka naik angkot menuju bandara, karena angkotnya melewati jalan utama menuju bandara. Saat itu saya berhenti dipertigaan tugu patung pesawat yang menuju bandara Abdul Rahman Shaleh Malang, pas didepan pom bensin, saat istirahat di moshola pom bensin tersebut, sambil bertanya-tanya jarak dari pertigaan tersebut ke bandara, ternyata cukup jauh, harus ditempuh dengan kendaraan, dan juga dari info orang orang di pom bensin tersebut bahwa jika malam bandara tutup. Akhirnya saya segera menghubungi keluarga yang di kota Batu, untuk meminta bantuan beliau, ternyata beliau tidak sibuk, dan menjemput saya di Pom Bensin tersebut.

Karena jarak batu ke pom bensin depan tugu pesawat jauh akhirnya saya mencari makanan hingga saya tertuju ke pedagang jajan daging tusuk yang semacam sosis goreng gitu, saya abiskan dengan ngobrol dengan tukang  jajan daging tusuk, saya banyak bertanya tanya tentang jarak pertigaan tugu patung pesawat ke bandara, tentang penginapan terdekat dan lainnya, yang hingga akhirnya  saya ditawari untuk menginap di rumahnya, karena cukup jauh jika harus ke batu. Tapi saya tetap menunggu saudara tersebut karena sudah menuju ke tempat saya saat itu.

Setelah cukup lama ngobrol dan menikmati jajan daging tusuk tersebut. Saudarakupun tiba, akhirnya saya bermalam di rumahnya. Baru keesokan paginya saja menuju bandara Abdul Rahman Saleh Malang, selanjutnya terbang menuju Lampung.

Sewa motor RPM Malang.
Bagi teman-teman traveler dan backpakers yang ingin keliling kota malang, dapat menggunakan sewa motor, dengan biaya murah dapat menjangkau pelosok pelosok wisata Malang, dengan sewa motor RPM. Biaya terjangkau dan murah, dapat menghubungi nomor ini  085764153381 / 082306550681 atau di website sewamotorku .com

Berikut ini dokumentasi video selama di Ranukumbolo.
thumbnail
Judul: Pengalaman Turun dari Ranukumbolo ke Bandara Abdul Rahman Saleh Malang
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Catatanku, tempat wisata, Video dan youtube :

0 komentar:

 
Copyright © 2015. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz