Berisi tentang cerita, foto, video, hoby, Aktivitas, dalam perjalanan petualang dan pencari pengalaman

Showing posts with label tempat wisata. Show all posts
Showing posts with label tempat wisata. Show all posts

6/18/23

Menikmati Sensasi Kopi Flores di Kampung Bena di Bejawa

1:50 PM 0
Sekitar pukul 7 malam kami tiba di kota Bajawa, kota kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tengarara Timur. Setelah perjalanan kurang lebih 5 jam dari Riung. Sensasi hawa sejuk kami rasakan di kota ini, menikmati sedapnya masakan khas asli Sumatera Barat menambah sensasi berbeda ketika di kota yang Terkenal dengan istilah "Piring Kedamaian" Masakan padang ternyata ada dimana-mana, yang khas lagi penjualnya ternyata asli orang Padang juga. waw mantap menikmati makanan khas Padang di Kota Piring Kedamaian, Bejawa.  Artikel cerita perjalanan di kota Bejawa kita akan menuju ke kampung adat yang terkenal di bawah kaki gunung Inerie sambil menikmati sensasi Kopi Flores di Kampung Bena. 
Kampung Bena di Bejawa yang berada di kaki gunung Inerie yang masih aktif 
Foto Kampung Bena tampak dari puncak paling atas di kampung Bena Bejawa 

Kami bermalam di penginapan yang sebelumnya sudah kami booking. Penginapan yang berada di jantung kota Bajawa ternyata penginapan tersebut masih tahap renovasi, sehingga kami dipindahkan oleh pihak penginapan ke homestay penginapan tidak jauh dari penginapan tersebut. Di penginapan kamipun melepas lelah dan mempersiapkan untuk trip ke kampung Bena esok harinya. Kami ingin menikmati sensasi kopi Flores di Kampung Bena di Bejawa. Walau Sempat di Penginapan ini ada catatan serunya. Kami tidur bertiga yang seharusnya diisi oleh 2 orang, alhasil kaki serasa menggantung karena ukuran tempat tidurnya yang tidak pas, tapi alhamdulillah bisa nyenyak juga. 

Pagi-pagi saya sudah terbangun terlebih dahulu, sayapun sudah mempersiapkan diri untuk berpetualang hari itu untuk menikmati sensasi kopi Flores di Kampung Bena di Bejawa ini. Teman-teman lain yang belum bangun saya bangunkan. Menjelang jam 7 kamipun sarapan bersama dan sudah siap untuk menjelajah kampung Bena. 

Perjalanan kami dari Bajawa ke kampung Bena tidaklah begitu jauh, sekitar setengah jam kami sudah sampai di parkiran yang khusus di kampung tersebut. Sepanjang perjalanan menuju desa Bena, kami disajikan dengan pemandangan gunung Inerie yang tampak tinggi menjulang di sisi jalan. 

Tiba di kampung Bena, kami berjalan sekitar 50 meter menuju ke rumah penerima tamu, kami melakukan regestrasi dan mengisi buku tamu, seingat saya 1 orang pengunjung dikenakan biaya Rp.15.000 rupiah, disana juga kami harus mengenakan kain tenun yg kecil sebagai tanda tamu yang masuk ke kampung ini. kain tenunnya sangat cantik dan indah, sehingga kamipun berebut ingin mendapatkan yang paling bagus, padahal semua bagus, sesuai selera masing-masing. 
situs megalitikum di kampung bena Bejawa
Kampung Bena merupakan desa wisata sekaligus situs megalitikum peninggalan mas zaman batu hingga eksis sampai sekarang, disini banyak terdapat susunan batu yang dibentuk dengan khas, selanjutnya di kelilingi rumah rumah warga yang bentuknya khas bena. yang lebih luar biasa sekali, perkampungan ini teretak di kaki gunung masih aktif yaitu gunung Ineire. 

Ibu sedang menenun di depan rumah Kampung Bena
Selama di kampung kami langsung bernarsis dan foto-foto ria, bercengkrama dengan ibu-ibu yang sedang menenun di depan rumah masing-masing, sayapun saat itupun langsung keliling kampung hingga ke ujung, di ujung kami kembali berfoto foto lagi. Saking asiknya foto foto, sayapun tertinggal rombongan. Ternyata rombongan sudah singgah di rumah yang paling ujung yang menghadap utara. Sayapun segera menyusul mereka, ternyata sedang asik menikmati kopi, sayapun segera melepas sepatu dan duduk dekat dengan Ibu pemilik rumah dan langsung ditawari minum kopi atau teh. Saya langsung menjawab ingin kopi saja. saya ingin menikmati sensasi kopi Flores di Kampung Bena di Bejawa.

Tidak lama dalam keasikan obrolan kami, kopipun sudah tersaji, saya langsung mengambil jatah. slurup kopi hangat saya minum, terasa bercampur di lidah, waw rasanya nikmati dan sensasi baru, saya yang nota bene bukan pecandu kopi tapi merasakan nikmatnya kopi Bejawa. memang saya keterunan keluarga petani kopi, dan setidaknya sering mengkonsumsi kopi, rasa kopi yang ada di Kampungku Way Tenong Lampung Barat, ada unsur berbeda rasa kopi Lampung dan kopi Bajawa. namun rasanya mantap. Bagi pecinta kopi harus menikmati sensasi kopi Flores di Kampung Bena di Bejawa.

Setelah cukup lama di rumah warga Kampung Bena, kamipun berpamitan untuk melanjutkan trip. inilah pengalaman kami dalam menikmati sensasi kopi Flores serta adat budaya di Kampung Bena di Bejawa.

Rute untuk mencapai Kampung / Desa Bena Bejawa adalah : Dengan menggunakan via pesawat terbang dari kota kupang ke kota bejawa di Bandara Soa, selanjutnya dari bandara ke kota Bajawa menggunakan travel  dengan harga kurang lebih 50 ribu. dari kota Bejawa bisa mencari penginapan disini atau melanjutkan ke desa Bena dengan menggunakan jasa ojek dengan waktu sekitar 30 menit.

Jika dari kota Ende, menggunakan travel atau bis jurusan Ende-Bajawa kemudian turun di Mataloko. Selanjutnya dengan jasa ojek untuk ke  kampung Bena.

Video selama di Kampung Bena simak dibawah ini : Kampung Adat Bena dan sawah Jaring Laba laba Cancar di Flores

Air Terjun Way Tayas di Pangkul Rajabasa Lampung Selatan

12:56 PM 3
Air Terjun Way Tayas adalah air terjun yang ada di Pangkul Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan. Sekian banyak air terjun yang ada di wilayah kaki Gunung Rajabasa Lampung Selatan. Nah ini, Satu lagi tempat wisata yang belum banyak diketahui oleh para anak muda kekinian, ya, ini dia curuq Pangkul atau sering disebut air terjun Way Tayas, curup atau air terjun yang terletak di kaki Gunung Rajabasa ini, menurut saat sangat cantik dan indah, air yang jatuh lumayan tinggi, memberikan warna indah tersendiri bagi penikmat pecinta lama bebas. 

Rute menuju Air Terjun Way Tayas  di Pangkul Rajabasa Lampung Selatan  adalah untuk mencapai ke air terjun ini tidak sulit, tergolong mudah dan tidak begitu ekstrim, suasana perkebunan kopi dan kakao menjadi penambah nilai eksotik dalam perjanan mencapai air terjun ini dibawah kaki Gunung Rajabasa. 

Rute untuk menuju ke air terjun Way Tayas  di Pangkul Rajabasa Lampung Selatan melalui jalan menuju arah kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan. Dari Kota Kalianda terus ke arah kawasan wisata Lampung Selatan yang melewati pantai-pantai : pantai Guci Batu Kapal, pantai Canti, pantai Banding Resort, terus sebelum pantai Wartawan, anda akan menemukan plank Kawasan Wisata Gunung Rajabasa, atau tepatnya di sungai Way Tayas, atau penunjuk lainnya daerah persawahan di pinggir jalan pada kecamatan Rajabasa. Dari Plank menuju Air Terjun Way Tayas tersebut masuk terus dengan mananjak jalan yang masih diunderla (berbatu). jika masih bingung bisa tanya ke penduduk setempat. 

Setelah di jalan underla tersebut terus menanjak hingga nanti bertemu jalan setapak yang bisa dilewati jalan motor, terus masuk hingga sampai di parkiran di Air Terjun Way Tayas  di Pangkul Rajabasa Lampung Selatan  tersebut.
Sepatu yang menjaga agar tetap kuat melangkah ke Air Terjun Way Tayas 

Air terjunnya cukup tinggi dan indah, Air Terjun Way Tayas 

Tidak lengkap jika tidak amndi di  Air Terjun Way Tayas 

Perjalanan menyusuri air sungai ini dimanjakan oleh pemandangan alam yang indah menuju Air Terjun Way Tayas 

Banyak batu batu besar untuk menuju rute ke Air Terjun Way Tayas  

Airnya jatuh sempurna di antara batu batu besar, Air Terjun Way Tayas 

Simak  Air Terjun Way Tayas pangkul Rajabasa lengkapnya di Video berikut ini :  

12 Air Terjun di Lampung Selatan

12:45 PM 0
Air Terjun Way Tayas di Pangkul Rajabasa Lampung Selatan
Apakah sudah tau kalau di Lampung Selatan memiliki air terjun yang indah dari catatan saya setidaknya terdapat 12 Air Terjun di Lampung Selatan. Lampung Selatan adalah kabupaten paling ujung di provinsi Lampung, atau paling ujung di pulau Sumatera. Bahkan sering dengan selogan Serambi Sumatera. Kabupaten yang terkenal dengan Palabuhan Bakauheni ini,  selalu menjadi sorotan khusus jika pada saat mudik lebaran. Ya sudah tau lah?  karena begitu ramainya arus mudik sehingga selalu menjadi liputan khusus di berbagai televisi di tanah air. Selain terdapat pelabuhan Lampung Selatan juga memiliki Bandara Radin Inten II, yang terletak di Branti yang notabenenya Bandara ini diakses lebih dekat ke Kota Bandar Lampung dibandingkan dengan Ibukota kabupaten Lampung Selatan.

Selain itu Lampung selatan juga terkenal dengan objek alamnya yang indah selain pantainya yang eksotik, Gunung dan banyak terdapat air terjun di bawah kaki Gunung Rajabasa, dapat disimak berbagai pantai yang ada di Kabupaten Lampung Selatan yang ternagkum dalam artikel : 91 Pantai yang Ada di Lampung

Selanjutnya di kabupaten ini terdapat gunung yang menyimpan sejuta potensi yaitu 2 gunung yang menjadi fenomenal di Indonesia : Gunung Rajabasa dan Gunung Krakatau di selat Sunda.  Gunung Rajabasa adalah Gunung yang megah yang ada di Lampung selatan, jika anda memasuki Kota Kalianda (Ibukota Kabupaten Lampung Selatan). Tepatnya kota kalianda terletak kaki gunung Rajabasa di sebelah Barat daya..  Nah ternyata di Gunung Rajabasa ini banyak sekali menyimpan wisata air terjun, yang mana ├áirnya  bersumber dari Gunung ini. Sekian banyak air terjun yang ada di gunung Rajabasa dan sekitarnya berikut ini saya rangkum. Dalam artikel 12  air terjun atau curup yang ada di Kabupaten paling selatan di Lampung ini. Gunung krakatau yang menjadi  sejarah dunia karena merupakan gunung dengan letusan terdasyat ketiga, pada saat itu letusannya yang menimbulkan sunami besar dan memakan banyak korban. Gunung ini masuk kedalam wilayah administrasi Kabupaten Lampung Selatan.  

Untuk mencapai seluruh air terjun yang ada di Lampung Selatan ini perlu usaha karena jarak antara satu air terjun dan lainya berjauhan. Tetapi jika anda ingin mengekplorasi seluruhnya dengan alamat desa dimana letak air terjun ini dengan bertanya kepada warga di sekitar desa maka anda akan menemukan air terjun2 berikut ini:

1. Air terjun Way Tayas, Desa Pangkul, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan 
Untuk artikel lengkapnya dapat kunjungi di : Air Terjun Way Tayas di Pangkul Rajabasa Lampung Selatan

Air terjun Way Tayas, Desa Pangkul, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan 

Berikut ini video Air terjun Way Tayas, Desa Pangkul, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.


2. Air terjun Way kalam, desa Merambung, Kecamatan Penengahan. Lampung Selatan 
Air terjun Way kalam, desa Merambung, Kecamatan Penengahan. Lampung Selatan

3. Air terjun Cijuet / Sarmun, Desa Cugung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan

Air terjun Cijuet / Sarmun, Desa Cugung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan

4. Air terjun Citiis, Desa Cugung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan
Air terjun Citiis, Desa Cugung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan sumber foto : Afrilian 

Berikut ini video air terjun Air terjun Citiis, Desa Cugung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan


5. Air terjun Way Guyuran

6. Air terjun Way Tajur, Desa Cukuh, Kecamatan , Lampung Selatan
Air terjun Way Tajur, Desa Cukuh, Kecamatan , Lampung Selatan
sumber foto : Afriliansyah

7. Air Terjun / Curup Jemara, Pantai Minangrua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan
Air Terjun / Curup Jemara, Pantai Minangrua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan

8. Air Terjun Way Hawi, Desa Canti, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan

9. Air Terjun Way Secakah, Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan

10. Air Terjun / Curup Midin, Pantai Minangrua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan

11. Air Terjun pantai Babatan, Tarahan. Lampung Selatan

12. Air Terjun Simpang Negara, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan

6/16/23

Pengalaman Turun dari Ranukumbolo ke Bandara Abdul Rahman Saleh Malang

3:36 PM 0
Foto foto  tepi danau suci Ranukumbolo Gunung Semeru

Berikut ini saya bercerita tentang Pengalaman Turun dari Ranukumbolo ke Bandara Abdul Rahman Saleh Malang. Siang itu setelah membereskan peralatan camping dan perlengkapan pribadi di danau suci Ranukumbolo, menjelang jam 12 kami isi berfoto -foto terakhir selama pendakian ke Gunung Semeru, di tepi danau suci Ranukumbolo, tidak lupa dengan latar tanjakan cinta. Kondisi yang tidak begitu ramai sehingga sangat puas sekali foto foto sendiri di danau Ranukumbolo.

Foto foto  tepi danau suci Ranukumbolo dengan Latar Tanjakan Cinta  Gunung Semeru
Foto foto  tepi danau suci Ranukumbolo Gunung Semeru

Setelah cukup banyak foto-foto di area camping ground di bawah tanjakan cinta tepi Ranukumbolo, kami lanjut berdoa dan terus lanjut pacu perjalanan menuju Ranupane, perjalanan menanjak dan menurun yang mengucur keringat, sekali kali saya abadikan alam sekitar dengan kamera. Sekitar beberapa jarak kami istirahat dalam hitungan detik. Post 4 kami istirahat dan menikmati pemandangan kebawah hamparan danau Ranukumbolo, di post ini juga kami pesta belanja buah semangka dan gorengan yang satu potongnya dengan harga 2.500 rupiah. Setelah cukup kami lanjutkan perjalanan menanjak dan menurun ke post 3. Di post 3 kami tidak berhenti tapi lanjut menuju ke post 2 dan terus ke post 1. Di post 1, hujanpun mulai turun, kami kembali menikmati jualan penduduk di post ini.
Perjalanan dari  Ranukumbolo ke Ranupane  Gunung Semeru kondisi kabut
Pengalaman saa turun dari Ranukumbolo ke Ranupane saya meminta kepada seluruh anggota tim pendakian untuk meminta turun duluan . Setelah sedikit diskusi, akhirnya kami sepakat, kalau saya turun dulu karena saya memburu tebengan untuk turun ke pasar Tumpang. Jam 2-an saya start dari post 1 turun ke menuju Ranupane, kondisi hujan saya berpacu turun, tentunya dengan ponco tetap terjaga kering perlengkapan. Di perjalanan saya susurun jalan setapak dan ada yang sudah dipaping, dengan sedikit memperkencang jalan kaki serta berlari kecil saya pacu agar cepat sampai dibawah. Saat itu karena kondisi hujan sepanjang perjalanan saya tidak berpapasan dengan siapapun, barulah tepat dibatas perkebunan sayuran baru bertemu 1 group yang akan mendaki,. Itupun hujan sudah reda.  Menjelang jam 3 akhirnya saya tiba di shalter Ranupane, kondisi tidak begitu rame karena pendakipun lagi sepi. Saya membersihkan diri dan berganti pakaian, saya lanjut ke parkiran.
Di parkiran saya hanya melihat 3 mobil jip dan 1 truk yang parkir, saya disapa oleh masyarakat, tujuan kemana,  ditawari ojek, karena biaya ojek 150 ribu, saya tetap memilih untuk menunggu dan menebeng dengan rombongan yang akan turun. Cukup laman saya menunggu pendaki yang turun dari Ranukumbolo di diparkiran, suhu dinginpun mulai menerpa, saya gunakan jaket gunung dan berdiang di perapian yang dinyalakan warga di parkiran tersebut. hingga 1 jam-an menunggu tidak ada tanda para pendaki yang turun, setelah lewat jam 5an baru ada, rombongan cukup banyak sekitar 18 orang, saya langsung menyamperi rombongan tersebut dan diizikan untuk gabung turun ke Pasar Tumpang menggunakan mobil truck, sedangkan 3 mobil jip yang tersisa akan menuju bromo.  Akhirnya saya turun naik truk dengan ongkos 50 ribu berhenti di alun-alun Pasar Tumpang.

Setelah turun dari Ranukumbolo saya berencana langsung ke Bandara Abdul Rahman Saleh Malang, dengan harapan saya dapat menginap di sekitar Bandara tersebut. Setelah di Pasar Tumpang, saat itu menunjukan pukul 8 malam, akhirnya saya berdiskusi dengan group pendaki dari Bakasi bahwa mereka menyewa mobil angkot menuju ke Stasiun Kota Malang. Akhirnya saya ikut gabung dengan mereka naik angkot menuju bandara, karena angkotnya melewati jalan utama menuju bandara. Saat itu saya berhenti dipertigaan Tugu Patung Pesawat yang menuju Bandara Abdul Rahman Shaleh Malang, pas didepan pom bensin, saat istirahat di moshola pom bensin tersebut, sambil bertanya-tanya jarak dari pertigaan tersebut ke bandara, ternyata cukup jauh, harus ditempuh dengan kendaraan, dan juga dari info orang orang di pom bensin tersebut bahwa jika malam bandara tutup. Akhirnya saya segera menghubungi keluarga yang di kota Batu, untuk meminta bantuan beliau, ternyata beliau tidak sibuk, dan menjemput saya di Pom Bensin tersebut.

Karena jarak Batu ke pom bensin depan Tugu Pesawat cukup jauh akhirnya saya mencari makanan hingga saya tertuju ke pedagang jajan daging tusuk yang semacam sosis goreng gitu, saya abiskan dengan ngobrol dengan tukang  jajan daging tusuk, saya banyak bertanya tanya tentang jarak pertigaan Tugu Patung Pesawat ke bandara Abdul Rahman Saleh Malang, tentang penginapan terdekat dan lainnya, yang hingga akhirnya  saya ditawari untuk menginap di rumahnya, karena cukup jauh jika harus ke Batu. Tapi saya tetap menunggu saudara tersebut karena beliau sudah menuju ke tempat saya saat itu.

Setelah cukup lama ngobrol dan menikmati jajan daging tusuk tersebut. Saudarakupun tiba, akhirnya saya bermalam di rumahnya. Baru keesokan paginya saja menuju bandara Abdul Rahman Saleh Malang, selanjutnya terbang menuju Lampung.

Sewa motor RPM Malang.
Bagi teman-teman traveler dan backpakers yang ingin keliling Kota Malang, dapat menggunakan sewa motor, dengan biaya murah dapat menjangkau pelosok pelosok wisata Malang, dengan sewa motor RPM. Biaya terjangkau dan murah, dapat menghubungi nomor ini  085764153381 / 082306550681 atau di website sewamotorku .com

Berikut ini dokumentasi video selama di Ranukumbolo.

Perjalananku Pulang Antara Kalimati dan Oro Oro Ombo Gunung Semeru

3:36 PM 0
Setelah bermalam di Kalimati, Kami siap-siap pulang atau turun menuju Ranukumbolo. Berikut ini cerita  perjalananku pulang antara Kalimati dan Oro Oro Ombo Gunung Semeru. Sebelum berangkat Oro Oro Ombo meninggalkan Kalimati. Pagi itu saya banyak habiskan dengan berfoto foto di Savana Kalimati, sedangkan teman-teman istirahat karena mereka baru saja turun dari puncak Semeru. 

Setelah cukup puas saya mendokumentasikan Savana Kalimati Bawah kaki Semeru, saya kembali ke tenda. Teman-teman yang sedang istirahat beberapa sudah bangun dan sebagian lagi masih tidur, saya langsung untuk beres perlengkapan saya dan saya mempersiapkan makanan. Sebelum turun ke Oro Oro Ombo Gunung Semeru kita harus full energi. 

Selanjutnya setelah makan, dan beres-beres tenda di Kalimati. Sekitar jam 11 siang kami melanjutkan perjalanan turun menuju Cemara Kandang dan lanjut ke Oro Oro Ombo di kaki Gunung Semeru. Di Cemara Kandang kami istirahat kemudian saya langsung mengabadikan lokasi ini serta pemandangan savana yang mengarah ke Oro Oro Ombo.   

Perjalanan turun dari Kalimati ke Cemoro Kandang lanjut ke Oro oro Ombo kemudian Ranukumbolo tidak sesulit saat menanjak, karena rutenya kebanyakan turun dan turun lagi. Sebelumnya saya sudah sampaikan ke teman teman team pendakian, kalau turun adalah spesialis saya, hehe.. karena jika turun saya tidak begitu berat mengangkat paha, bahkan saya biasa turun dengan berlari-lari. Tidak tau jika naik gunung saya mendakinya tergolong lambat dan masuk golongan siput, alon alon asal kelakon. Saat mendaki, jika dibandingkan dengan master pendaki saya sangat tertinggal, tetapi jika turun gunung saya cepat, bahkan santai dengan berlari lari kecil. Namun ada teman-teman pendaki yang lain kebalikan dari saya. hemhem kenapa ya.  

Perjalanan kami dari Kalimati ke  Oro Oro Ombo berlanjut ke Ranukumbolo siang itu tergolong sangat santai, setelah tiba di Cemoro Kandang bahkan kami lama sekali istirahat. Saya sibuk ambil foto dan video sedangkan teman yang lain menikmati makanan yang ada disana. 

Selanjutnya saya begitu senang saat tiba kembali di Oro oro ombo, saya banyak habiskan berfoto dan bervideo, sehingga saya yang paling belakang alias tertinggal jauh dari group tersebut. 

Berikut ini video amatir saya merekam berjalanan kami selama di Kalimati dan Oro oro ombo, selamat menyimak. semoga terkesan dan ingin berkunjung ke sini.

Cerita Mistis Ketika Mendaki Di Gunung Semeru

3:25 PM 1
Pengalaman cerita mistis ketika mendaki Di Gunung Semeru.  inilah tema yang saya ambil karena cerita mistis atau misteri sudah tidak asing lagi bagi para pendaki. Apalagi sudah banyak cerita bertebaran di akun sosial media, berikut ini saya coba tampung cerita mistik dari group kami yang baru saja melakukan pendakian di gunung tertinggi di pulau Jawa, yaitu Mahameru. Gunung yang sebut-sebut tempatnya para dewa. 

Dalam trip ini Ketika mendaki Gunung Semeru kami berjumlah sepuluh, semuanya berasal dari Lampung, Perjalanan kami bersama-sama dari Lampung menyeberang ke pulau Jawa hingga berhasil melakukan pendakian dan pulang ke Lampung kembali, dengan selamat serta membawa sejuta pengalaman, kenangan dan cerita termasuk Cerita Mistis. 

Berikut ini, saya ulas cerita kami yang berbau mistis misteri atau ada hantu-hantunya alias angker gitu ketika mendaki di Gunung Semeru.. Hehehe.. Cerita mistis pertama diceritakan oleh cewek tercantik dalam trip ini, yaitu Amelia, yang sering disapa dengan Amel. 

Amel menceritakan cerita mistis ketika mendaki di Gunung Semeru sebagai berikut: 
"Halo sahabat baper, jadi gua mau share nih, karena semalem gua dibikin baper, gara-gara coba searching cerita mistis di gunung Semeru, sebab memang gua sama sekali tidak tau tentang mistis-mistisnya gunung, dan gua cocokin tuh dengan kejadian yang gua alamin waktu disana. Sebenernya gua mengalami beberapa kejadian cuma ya bisa diem aja, mungkin juga karena waktu itu gua lagi faktor ngga bersih (datang bulan). Kejadian mistis pertama gua diganggu nenek-nenek waktu tidur di camp Kalimati Gunung Semeru, dia sampai bangunin gua dari tidur, neneknya pake baju putih rambut putih, tidak lama dari kebangun tiba-tiba gua denger suara gamelan dong di malam itu, suaranya jelas banget alus tapi kedengeran, sampe gua tutup kuping terus gua buka lagi dan suaranya masih ada, dan gua bangunin Nata/team leader trip ini, tapi nata tidak bangun jadi gua tidurin lagi aja". 

Lanjut cerita Amel tentang Mistis di Gunung Semeru "Sewaktu gua liat di postingan orang yang pernah mengalami hal mistis ternyata ada juga yang pernah denger suara gamelan tapi dia ngecamp di Archopodo Gunung Semeru dan suara gamelan berasal dari blank 75 Gunung Semeru dan gak lama dari itu teman mereka kesurupan, gua langsung baper untung gua nggak mengalami kejadian itu alhamdulillah". 

Kejadian yang kedua Mistis di Gunung Semeru yang paling mengerikan:  "waktu kita tidur di Ranupani di aula, dari perjalanan turun ke Ranupani yang gua jatoh cantik itu, sepanjang perjalanan emang gua banyak diem, gua bengong sepanjang jalan, dan efeknya pas kita tidur nunggu jeep, tiba-tiba gua kebangun jam 12an hati gua gelisah banget tidak tenang,  rasa mistis kayak ada sesuatu hal yang gua rasain, tiba-tiba gua denger suara kereta kencana dengan suara kerincingannya yang khas, tidak lama dari suara kereta kencana, suara anjing ngaung kan katanya kalo anjing begitu dia liat sesuatu makhluk alus, gua berusaha aja buat tidur lagi, tapi malah gua makin tidak tenang, setiap gua pejamin mata yang gua liat Kalimati Gunung Semeru dan jalan-jalan di gunung tadi."  

"Seperti ada perasaan yang nyuruh gua balik kesana, sempet gua bangun sampe duduk aja belum berdiri, tapi gua lawan aja perasaan itu ngapain kan gua tengah malam mau balik ke gunung Semeru lagi sendirian. Tapi sumpah malem itu benar-benar  seperti ada yg nunggu gua terus nyuruh gua masuk ke gunung lagi, untung gua masih sadar dan gua baca ayat kursi dalam hati, tapi masih aja gua tidak tenang dan masih pengen bangun buat balik ke gunung lagi sendiri. Akhirnya gua bangunin Nata, gua suruh dia bacain ayat kursi juga, mungkin Nata masih inget kalo tidak Nata ya antara sadar dan enggak saat itu, karena gua perhatiin kalian semua lelap banget, termasuk tim yang lain." 

"Ia memang sih gunung dan laut itu tempat tinggalnya jin, di al-qur'an juga bilang gitu. Bersyukur kita tidak ngalamin hal mistis yang lebih parah dari itu, semenjak gua ngalamin hal itu, gua malah mikir salah gua dimana ya sampe bisa kayak gitu, apa ada salah ngomongan, atau karena faktor bulanan yang gua alami, bener-benar kalo ke gunung harus jaga sikap, karena kita tamu disana dan itu tempat mereka. Memang mereka itu ada, Allah kan memang ciptain jin dan manusia. Semoga bisa jadi pelajaran buat gua kalo di gunung jangan pikiran kosong ngelamun bengong". 

"Yang paling serem dan kental unsur mistis  itu kalimati Gunung Semeru ke atas ya, apalagi di Archopodo sama kelik pas ada batu-batu prasasti itu berasa banget suasananya, terus batu besar yg di Archopodo  seperti kentung itu serem ya, dan kayaknya kerjaan mereka ada di sumber mata air itu, itu memang tempat jin buang anak, yang katanya deket lurus-lurus aja landai itu tempatnya"

"Oke guys just share itu pengalaman gaib atau mistis yang gua alamin waktu kemaren disana di Gunung Semeru, ternyata gunung bukan cuma tempatnya yang indah tapi mistis nya juga meninggalkan kisah."


Demikian cerita mistis dari Amel, 

Selanjutnya saya cerita mistis yang saya alami sendiri di Gunung Semeru
Sejak masuk Kalimati sudah banyak yang gangguin arah mistis gitu tapi saya selalu dilogikakan. Ketika selesai mendirikan tenda di Kalimati, saya melihat ke atas kok ada 3 orang berjalan ke atas, saya bingung mereka mau kemana? Sampai saya mempertajam penglihatan ternyata yang saya lihat hanya pepohonan, saya sempat bingung, apa saya berhalusinasi. Saya kembali berlogika, ahh ini efek mata minus..menghalau pemikiran mistis, Daun dikira orang, saya kembali membereskan sekitar tenda agar tendanya kuat. 

Waktu itu di Kalimati Gunung Semeru saya tidur sendiri, karena teman-teman bersembilan muncak ke Mahameru, sedangkan saya tinggal di Kalimati. Alasan saya tidak muncak pertama memang dari awal saya tidak begitu obsesi ke puncak/sumit, kedua karena saya harus simpan energi untuk turun karena saya harus segera pulang ke Lampung, ada faktor penting yang harus kerjakan demi karir saya. Selanjutnya selama semalaman di Kalimati saya sulit sekali untuk tidur, padahal badan sudah lelah sekali. Ketika teman dan para pendaki sudah naik dari jam 10 hingga jam 1 malam. Suasana jadi sepi hanya rintikan hujan yang terus berjatuhan tidak henti, desiran angin terus menambah semakin pekatnya malam. suasana seperti ini menggiring ke suasana tidak nyaman berbau mistis gitu. 

Camping di Kalimati Gunung Semeru, Saya berusaha memejamkan mata dan menenangkan diri untuk terbawa larut lelap tidur tetapi berat sekali, seakan-akan saya harus selalu terjaga. Pikiran saya bercampur aduk dan saya selalu berusaha menghalau perasaan mistis yang kadang terbesit. Dinginpun semakin menusuk tulang, saya sudah menggunakan dua lapis jaket gunung, terus sleeping bag. Tapi masih saja menusuk tulang, akhirnya saya ambil matras teman dan sleeping bag teman yang sedang sumit tersebut. Hingga saya menggunakan matras dan sleeping bag berlapis-lapis. Suasana hujan rintik dan desiran angin terus melarutkan malam, beberapa kali saya mendengar ada langkah-langkah mendekati tenda kami, saya langsung terjaga dan bangun, mengarahkan headlamp ke sekitar tenda. Asumsi saya takut ada binatang yang mendekat tercium bau makanan yang kami bawa. Tetapi semua nihil, saya merapikan semua bahan makanan dan menutupnya di tenda teman. Saya kembali berusaha untuk tidur. 

Masih kondisi hujan dan angin. Dari kejauhan saya mendengar suara obrolan yang asik, ada canda tawa dalam obrolan tersebut. Saya selalu melogika-kan bahwa yang sedang ngobrol itu adalah teman-teman pendaki di tenda lain. Tapi suara itu makin mendekat ke tendaku, anehnya lagi, sumber suara dari hutan yang notabene kok bisa ngobrol di tengah hutan. Bukan dari kerumunan tenda disebelah belakang tenda kami, saat itu tenda kami di bangun dibawah pohon samping hutan. Yang ternyata kami mendirikan tenda pas dibawah pohon yang diberi tanda kain putih, padahal itu dilarang, tapi itu baru saya sadari setelah pagi. Sepanjang malam itu banyak pengganggu dari suara suara aneh, setelah suara orang ngobrol, lanjut suara musik, lanjut suara gamelan, tapi saya selalu melawan dengan logika melawan unsur mistis bahwa di sebelah sana ada group pendaki lagi senang senang dan happy happy. Hingga akhirnya saya terlelap dan sadar ketika menjelang subuh .. 

Cerita paling bikin merinding sendiri ketika menjelang subuh sekitar jam 4an, ada suara bayi.. Gila aja kan bayi nangis ditengah-tengah padang rumput Kalimati. Gunung Semeru. Tapi saya tidak mau ngikuti hawa mistis, tak cuekin aja. Saya asumsikan itu adalah musang yang lagi berebut makanan sesama musang. Saya segera ambil wudhu dan menunaikan sholat subuh.. Saat itu pengalaman Gilee bener berwudhu dengan air es, dingin sampai ke tulang. 

Setelah shalat subuh saya kembali menarik sleeping bag, karena suhu sangat dingin dan menunggu matahari muncul. Kemudian beberapa saat saya mendengar suara obrolan dari atas, dan bahasanya terkesan asing karena bukan bahasa Indonesia. Saya segera keluar tenda, hingga suara itu semakin mendekat dan munculah 4 orang berbadan tinggi besar dan wajah bule. Yaaa ternyata mereka adalah turis yang baru saja melakukan pendakian ngga ada unsur mistis nya ya... Setelah berselang 15 menit muncul 2 orang lagi, asli orang indo. Saat itu saya berpikir alangkah cepatnya mereka turun, atau mereka tidak jadi mucak / sumit? Itu jadi tanda tanya sendiri dibenakku.  

Saya pagi itu berusaha menjauhkan pemikiran yang berbau mistis mencoba memasak air untuk minum madu anget, agar tubuh ikut hangat.. Berselang beberapa menit, munculah 4 burung yang terbang dan hinggap di atas tenda dan yang 2 di depanku. Saya langsung kaget dan coba sapa burung tersebut "hai burung salam kenal, saya Raswan dari Lampung sedang bertamu di sini, kalian kok datangnya tiba-tiba serta langsung berempat? Apa kalian mau makanan? " Saya tawarkan roti ke burung tersebut sentak keempat burung tersebut terbang dan hilang entah kemana. 

Saat itu saya coba untuk masak nasi, belum lama saya meletakan nesting di atas kompor, terdengar suara lagi dari atas orang turun dan ngobrol, betapa senangnya teryata teman temanku sudah tiba lagi di camp, saya langsung sapa "Kok cepat sekali apa kalian tidak sampai ke puncak" mereka menjawab "iya sudah turun, cepat sekali mereka turun, belum sampai 7 pagi, mereka sudah di Kalimati lagi. Luar biasa ternyata teamku adalah anak muda yang tangguh. 

Selanjutnya cerita mistis ketika Gunung Semeru dari Agus, dia bercerita : 

Agus mencerikan kalau dia cuman dipanggil pas ambil air, yang manggil suara wanita kayak suara ibu-ibu gitu di Ranukumbolo,  dan Sama denger kereta kuda pas tidur di Ranupani.

Sedangkan teman Taufiq dia menyatakan tidak ada perasaan mistik sama sekali waktu mendaki ke Semeru. 

Demikian cerita serem berbau mistis yang kami alami, bagaimana dengan anda ketika mendaki gunung?..

Berikut ini rekaman sayaIni Video ketika bersama team Hore dari lampung 

Ranukumbolo : Nikmatnya 2 Malam di Danau Suci Kaki Semeru

3:24 PM 0
Lanjutan bagian ke 2 dalam misi kami Pendakian Gunung Semeru. Cerita perjalanan kami kali ini tentang  Ranukumbolo : Nikmatnya 2 Malam di Danau Suci Kaki Semeru. Kami bermalam di Danau ini sebanyak 2 kali, yaitu sebelum ke puncak Semeru dan setelah balik dari puncak Semeru. Ranukumbolo adalah Danau Suci Kaki Semeru, disini nikmatnya 2 malam ngecamp di tepi danau ini. Berikut ini saya bercerita tentang keadaan kami bermalam di  Danau Suci Kaki Semeru.  

Perjalanan yang cukup melelahkan menjelajah Gunung Semeru. Lengkap dengan distinasi-distinasinya antara lain Danau Ranukumbolo. Perjalanan melelahkan namun semua terbayar dengan keindahan surga alam di kaki langit, bumi Mahameru. Kami terbawa 
nikmatnya 2 malam di Danau Suci Kaki Semeru, Ranukumbolo. Kami bersepuluh jauh dari bumi ujung Nusa Andalas tepat dari sang bumi ruwai jurai Lampung, dengan semangat satu sama lain menjadi satu langkah bersama menuju dan berkeinginan mencapai puncak untuk menikmati keindahan alam Taman Nasional Bromo Tengger. Sepakat dan satu tujuan pergi untuk pulang ke tanah kelahiran The Treasure of The Sumatera kembali dengan sehat dan utuh.

Cerita Ranukumbolo : Nikmatnya 2 Malam di Danau Suci Kaki Semeru ini melanjutkan cerita sebelumnya. Perjalanan dari Lampung Hingga Malang, lanjut ke Ranupane. Dengan menumpak mobil jip yang telah dibooking oleh team leader kita, mas Nata Pangestu,  Kita tempuh perjalanan menanjak, dengan pemandangan yang indah pegunungan dengan sebelah kiri kanan jurang. Banyak kebun sayuran di perjalanan menuju Ranupane, perjalanan dengan hujan kecil dan kabut pegunungan kami nikmati pada trip ini.  

Setelah mencapai Ranupane sekitar jam 2an, kami berhenti di parkiran di Ranu Pane.  Di parkiran sudah beberapa mobil jip dan mobil truck parkir disini. selanjutnya kami turun mobil lalu menuju ke areal shalter post penjaga pintu masuk pendakian Semeru, lanjut kami menuju ruang briefing kemudian di briefing oleh volunter Taman Nasional Bromo Tengger. Dalam briefing tersebut dijelaskan bagaimana kondisi Taman Nasional Bromo Tengger, Ranukumbolo, Kalimati dan Puncak Semeru, persyaratan pendaki, serta peraturan peraturan yang lain yang harus ditaati oleh para pendaki serta adap dan perilaku selama pendakian. 

Point penting yang saya tangkap dalam briefing tersebut, Banyak disampaikan oleh volunteer saat itu kurang lebih selama 1 jam adalah: 
1) Setiap tim atau regu pendaki harus solid dan saling jaga satu sama lain, 
2) Tidak disetujui mendaki sendiri atau memisahkan diri dari groupnya, 
3) Masing-masing pendaki harus membawa sleeping bag dan surat keterangan sehat dari dokter, Surat izin SIMAKSI harus sudah ada, yang saat itu kita mengurus via online, 
4) Selanjutnya di kawasan pendakian hanya boleh meninggalkan jajak kaki tidak boleh meninggalkan apapun apalagi sampah, sampah harus dibawa turun kembali,
5) Untuk asuransi pendakian hanya sampai ke Kalimati, selanjutnya untuk ke puncak diluar tanggung jawab pihak taman nasional Bromo Tengger. Sehingga untuk summit atau muncak ke Mahameru sudah tanggung jawab masing-masing pendaki, 
6) Untuk pendaki yang summit diharapkan setelah jam 8 pagi di puncak harus sudah turun karena bahaya dari asap beracun dan semburan lahar Mahameru, 
7) Saat mendaki puncak para pendaki harus terus saling solidaritas dan saling jaga, 
8) Jangan mengikuti di luar jalur pendakian karena banyak para pendaki yang hilang  di jalur ini.  

Setelah briefing kamipun keluar ruangan lalu siap-siap dan melengkapi berkas di pintu masuk, setelah semua siap, setelah sholat ashar kami tancap menuju Ranukumbolo.  Kondisi dengan setengah mendung kami pacu hingga di post 1, di post ini kami istirahat sambil membeli semangka dan gorengan, setelah itu kami lanjutkan ke post 2, setelah melewati post 2 kondisi kabut makin pekat dan jarak pandangpun makin dekat, dengan kondisi gerimis kamis terus hingga tiba di post 3, di post ini saya melihat jam sekitar pukul 5an tetapi sudah gelap sekali dan hujan semakin deras, kami masing-masing memakai jas hujan, kondisi di post 3 cukup ramai para pendaki yang akan naik ataupun turun kumpul jadi satu di post ini.

Pada kondisi gelap dan hujan saya sempat kesulitan mengenali teman-teman team pendakiku, setelah memakai jas hujan dan perlengkapan diri sudah save dari basah, saling memanggil nama, akhirnya kami satu kembali. Setelah dinilai cukup istirhat dan teman-teman sudah siap, kami lanjutlan perjalanan menuju Ranukubolo. Pada post 3 ini dilanjutkan dengan tanjakan agak curam dan licin, saat itu sayapun heran ada group pendaki yang lain dengan perlengkapan seadanya tampak begitu semangat mendaki, kondisi tanpa alas kaki dan membawa tas, dengan jas hujan plastik serta membawa kantong plastik asoy, dia dan teamnya beberapa jatuh dan terpeleset lalu bangun lagi, bahkan beberapa kali menyalip group kami. "Sayapun sempat berpikir kok mereka ini semangat sekali ya? Tapi tidak dilengkapi peralatan mendaki yang maksimal. 

Kondisi hujan makin deras, malam makin mendekat, beberapa kali saya kehilangan Amel (anggota team paling cantik) yang ada di depanku hilang karena geraknya yang agak cepat, beberapa kali saya memanggil dia agak jalannya tidak terlalu mengebut karena teman pas dibelakangku Abas (tidak begitu awas dalam kondisi gelap) beberapa kali dia terpeleset bahkan dia terbentur kepalanya pada kayu yang ada disepanjang jalur pendakian tersebut. Namun rasa dongkol dan sabar benar diuji, beberapa kali saya sampaikan ke Amel untuk lebih pelan tapi dia malah menjawab "kak kalau pelan saya cepat cape" akhirnya sayapun meminta agus untuk menemani Amel yang jalannya makin cepat, agar tidak sendiri. Sedangkan anggota tim yang lain berada di belakangku, leader selalu berada di paling belakang. Kondisi sore itu dalam keadaan gelap cukup banyak para group pendaki yang lain sehingga koordinasi satu group sering salah orang,  tapi Kami lanjut pendakian hingga post 4, post 4 ini kami lewati. 

Setelah post 4 kondisi turunan membuat beberapa kali diantara kami terpeleset dan tersandung kaki karena akar, batu atau lobang karena kondisi gelap dan licin. Pada sepanjang post 4 hingga tempat kemah area datang sudah terlihat lampung gemerlip dari tenda tenda para pendaki yang lain. Dengan berjalan terus serta iring iringan dengan team yang lain kondisi dingin dan kabut serta badah basah keringat kami sampai juga di bibir danau suci di kaki Semeru. Sekitar jam 7 malam kami sampai di danau Ranukumbolo. 

Atas pengalaman sang leader kami mendirikan tenda di area perkemahan yang bukan di dekat tanjakan cinta. Kami mendirikan di wilayah camp 1 pada area ke arah pulang. Kami mendirikan tenda, dengan suhu yang sudah terasa menusuk tulang kami berbagi dengan ada sebagian memasak, dan sebagian berberes diri, sedangkan saya selanjutnya mandi, dengan mandi ala darat, yaitu mengambil air dari danau kemudian dibawa ke daerah jauh dari tepi, disana saya menyiram badan dengan air yang dingin bak air es, di danau Runokumbolo tidak diperbolehkan mandi langsung di danau, karena danau ini harus dijaga kebersihannnya karena air danau digunakan untuk minum, masak para pendaki, selain itu tentunya menjaga ekosistem dari danau itu sendiri. Setelah sambil menunggu masakan mateng kami isi dengan obrolan canda tawa ketika pengalaman perjalanan 4 jam mencapai Ranukumbolo. 

Setelah makanan matang, kami makan selanjutnya istirahat tidur. Tidur terasa pulas sekali karena perjalanan dari Lampung hingga Ranukumbolo sangat kurang tidur. Sebelum jam 4 pagi kami pun sudah bangun, setelah subuh, pagi itu saya habiskan untuk hounting foto milky way, atau memoto bintang-bintang yang begitu indah. Saat itu saya bersama Agus, yang pagi itu sudah bangun terlebih dahulu. Semakin berjalannya waktu di pagi itu, suasana menakjubkan dan keindahan alam Ranukumbolo mulai terlihat, rasa bangga dan syukur selalu terucap di pagi itu. Impian yang lama didambakan akhirnya tercapai.
Hasil foto dalamhounting foto milky way di langit Danau Ranukumbolo 
Sumber foto: Rasuane Noor, 2017
Pagi itu kami habiskan untuk berfoto bersama, selfie hingga narsis kami lakoni, selanjutnya kami menyiapkan makan pagi, sarapan hingga mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya menuju ke Kalimati. Tendapun kami bongkar, dan kembali packing untuk perjalanan sekanjutnya. Perjalanan dari camp 1 hingga menuju ke camp ke 2, melewati tanjakan cinta, terus ke area Oro Oro ombo, lanjut ke Cemoro Kandang, hingga ke Kalimati. Setelah di total perjalanan kami dari Ranukumbolo hingga Kalimati sekitar 4 jam. 

Setelah tiba di Kalimati, kami segera mendirikan tenda,  tendapun sudah berdiri kokoh, kami berbagi tugas, ada yang mengambil air di sumber mata air dan ada yang menyiapkan makan. Saya bertiga sore itu menuju ke sumber mata air di Kalimati, ternyata perjalanan cukup melelahkan ke mata air ini LANJUT CERITA PADA SEMALAM DI KALI MATI MAHAMERU 

Malam Kedua di Ranukumbolo
sekitar pukul kurang jam 11  kami mulai start dari Kalimati menuju ke Ranukumbolo, kondisi perjalanan tidak sesulit waktu mendaki, karena relatif jalan terus menurun. Sayapun selama perjalanan pulang Saya habiskan dengan banyak merekam video dan foto. Sehingga perjalanan tak terasa banyak memakan waktu juga, tapi rasa senang dan gembiranya begitu indah. 

Hingga menjelang pukul 4 kami masih berlama-lama di Cemara Kandang, oro oro ombo dan tanjakan cinta, sebagian teman sudah turun dan mendirikan tenda ditepi danau Ranukumbolo. Sore itu keadaan Ranukumbolo banyak kabut, dan tenda tendapun tidak banyak. Sehingga bisa dikategorikan sepi. Sehingga kami sangat leluasa dalam mencari lokasi untuk ngecamp.  Selama di tanjakan cinta kami mendokumntasikan dengan foto, memasang hommock lalu bergantian berfoto, Bas, Amel dan Amri. Bahkan kami turun dari atas tanjakan cinta ke bawah tidak melalui jalur biasa tetapi lewat jalur baru dari area ini. 

Setelah mendirikan tenda, kami lanjut mandi, sholat dan hingga malam kami isi dengan  masak, makan bersama, selanjutnya sisa waktu kami habiskan dengan ngobrol, saya,  Amri dan Danu banyak ngobrol tentang pengalaman satu sama lain dalam aktivitas sehati hati, teman yang lain sudah terbuai tidur kita masih asik bercerita satu sama lainnya  hingga istirahat tidur. 

Tidur nyenyak dan berkualitas saya rasakan pada malam kedua di Ranukubolo ini. Bahkan pagi itu sayapun berat untuk beranjak di dalam sleeping bag, namun karena moment sulit untuk terulang sayapun tergugah tuk lekas keluar untuk menikmati pagi itu..Selanjutnya pagi itu pagi hounting foto sunrise, kita masak diiringin naiknya sang surya, lanjut foto beesama dan perayakan ulang tahun pada bulan iti, makan bersama hingga beres untuk persiapan perjalanan pulang menuju Ranupane kembali.. Simak di ARTIKEL PERJALANANKU PULANG DARI RANUKUMBOLO MENUJU KOTA MALANG.

Berikut ini beberapa foto foto kami selama kegiatan Ranukumbolo Nikmatnya 2 Malam di Danau Suci Kaki Semeru
Foto-foto di danau Ranukumbolo Sumber foto: Rasuane Noor, 2017

Berikut ini dokumentasi video selama kami di danau Ranukumbolo. Nikmatnya 2 Malam di Danau Suci Kaki Semeru. Selamat menyimak: