loading...

Saturday, October 22, 2016

Kota Ende : Maboknya Petualang, Sedapnya Sambal Dabu dan Tragedi Tas Biru Zaqi

Setelah dari danau 3 warna Kelimutu, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Ende, sebelumnya sudah disampaikan oleh sopir dan ketua tim kita bang Noel "agar siang sebelum jam 10 kita sudah harus berada di tempat pengantrian jalan yang sedang diperbaiki" (saya lupa nama tempatnya)  Karena di tempat ini, sedang ada perbaikan jalan dan bukit yang sering longsor, sehingga sudah lama daerah ini dalam tahap perbaikan. Setiap 2 jam sekali jalan itu dibuka. Jika lebih cepat kita akan menghemat waktu.


Dalam perjalanan menuju Ende, kami menikmati pemandangan yang indah disela sela aroma kotoran babi. Disisi itu ternyata Akbar, teman trip dari kota Makasar memperlihatkan wajah yang pucat dengan keringan dingin, sehingga tercetuslah ucapan dari Ririn (teman dari Jakarta) "akbar kamu mabok?" dia menjawab "kepalaku pusing"  dia berusaha tetap memejamkan mata di kondisi duduk pinggir, hingga sayapun penyarankan kepada teman yang duduk dekat dia "dipijet pijet punggung dia" hingga muncul ide "posisi duduk dia diganti dengan mas Zaqi sehingga dia bisa rebahan di atas tas kita menumpuk". Sehingga dia bisa lebih relax,  Posisipun berganti. 

Dibalik maboknya teman kita yang satu satu masih mahasiswa tersebut, terucap buly-an dari kita "petualang bisa mabok mobil juga" candaan itupun tidak dia pedulikan, nampaknya dia konsentrasi bagaimana mengembalikan kondisi dia agar tetap kuat.

Sebelum jam 10 kami sudah berada di tempat perbaikan jalan tersebut, sudah 5 kendaraan mengatri di depan kami, motorpun sudah cukup banyak. Di depan memang sedang ada mesin eksavator dan sejenisnya sedang merontohkan bebantuan dan bekerja memperbaiki jalan tersebut. Saat itu Kamipun sepakat untuk mencari makan di sekitar tempat itu, waktu masih ada, perut  sudah merontah karena kita sejak dari puncak Kelimutu perut belum berisi. Setelah makan Saya kembali ke mobil, saya masih melihat si Akbar masih tertidur ayam diatas tas-tas tersebut, saya kembali menawarkan dia agar makan, tapi dia menolak, saya pun memberi beberapa makanan nampaknya dia tidak tertarik, masih fokus dengan mabok perjalananya. Hingga akhirnya ada tawaran buah jeruk dari bu Siuli kepada dia, diapun mengkonsumsinya.  Disela-sela kemabukanya, Akbar bercerita kalau dia kurang istirahat sejak sampai di Maumere, ini adalah hari 4 trip kita, dia juga sudah terlalu banyak mengkonsumsi moke (minumal beralkohol asli Flores). Sehingga kondisinya jadi down. Saya menyarankan agar dia beristirahat saja.

Setelah sekitar kurang 1 jam kami menunggu, jalanpun sudah dibuka, motor terlebih dulu melewati jalan tersebut. Selanjutnya perjalan yang indah dengan pemandangan bukit yang curam dengan  jurang yang asri menjadi menyejuk mata dalam kondisi duduk di mobil pickup yang berhimpit dan aroma tidak sedap.  Saya melihat bukit- bukit indah itu, terdapat bekas memutih di dinding2nya, cukup tinggi yang ternyata sisa air terjun pada saat musim hujan, mengalir. Sempat saya berpikir, jika musim hujan akan indah sekali bukit itu dengan banyak air yang jatuh di dinding bukit. Kapan bisa datang kembali?

Kurang lebih perjalanan 2 jam , kami sampai di kota Ende, kami tiba di rumah Saudaranya bang Nuel, kami turun serta menurunkan barang masing masing, hingga mobil pickup pun berlalu balik selesai menghantarkan kita.  Saya berduduk santai teras rumah tersebut sedangkan teman yang lain mandi dan beres -beres, berbeda dengan mas zaqi di sibuk membongkar semua isi tas dan mencuci tasnya karena Sumber bau di mobil pick up adalah kotoran babi, yang paling banyak mengenai bagian tas mas Zaqii. Akibat itu tasnya bau super serta kekesalannya meradang. Walau saat itu tas punya mas Ibnu terkena juga tetapi tidak separah punya mas Zaqi.

Saat itu kami berobrol asik dengan pihak rumah, hingga datang minibus elf muncul, dan mobil tersebut yang akan menghantarkan kita untuk trip selanjut ke Riung, Waerebo, Cancar, dan Labuhan Bajo. Sambil menikmati teh anget dari pihak rumah saya lihat mas Zagi masih sibuk dengan tas yang dia cuci dan jemur, pakaian isi tas terhambur di atas plastik karpet, wajahnya sangat serius sekali, beberapa kali tawaran teman untuk menikmati teh anget tanpa dia perdulikan.

Selang beberapa saat hidangan makan siang sudah disiapkan, kamipun menikmati makan siang dengan sajian khas dari keluarga bang Nuel, dengan makan khas ikan bakar dan sambal dabu dabu, wah nikmat sekali, kamipun dengan lahap dan semangat makan hingga perutpun full. Terimankasih sekali kepada bang Emanuel dan keluarga yang telah menyajikan makanan gratis kepada kami.
Kamipun sudah selesai makan, mas Zaqi Baru kelar membersihkan tas birunya, makan tertunda karena kesibukannya dengan tas terkena kotoran babi. Hehe.  Sambil makan diwajahnya masih tersimpan kekesalan atas kejadian dengan tas birunya. Beberapa ucapan muncul "jijik najis  gw mah, itu kotoran babi, najis tralala'". Ya itulah pengalaman trip yang untuk kita kenang.. Hehehe..

Selanjutnya setelah foto bersama dan pamit kepada Kakak dan keluarga Bang Niel di Kota Ende, kita akan melanjutkan trip menggunakan minibus elf menuju Riung 17 Pulau, namun kita memampir di situs sejarah, rumah pengasingan soekarno presiden RI pertama di kota Ende.
rumah pengasingan bung karno di kota Ende, Flores Nusa Tenggara Timur
thumbnail
Judul: Kota Ende : Maboknya Petualang, Sedapnya Sambal Dabu dan Tragedi Tas Biru Zaqi
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Catatanku, tempat wisata :

0 komentar:

 
Copyright © 2015. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz