Saturday, November 18, 2017

Menggali Sapta Pesona dan Ekowisata : Seminggu di Yogyakarta

Tepat Setahun lalu saya berkunjung ke provinsi yang terkenal dengan kesultanannya. Apalagi jika penggemar Group musik Kla projek yang dimotori Katon Bagaskara : pasti ketika menginjakan kaki di kota ini, akan terngiangan dengan lagu yang populer tersebut  "Yogyakarta" 

Saat itu, setahun yang lalu, saya menginjakan kembali di kota pelajar dan kota wisata ini dalam rangkat kegiatan penelitian tentang LPTK dengan bertandang ke UMY dan Universitas Ahmad Dahlan. Hampir sama dengan tahun lalu, tahun ini  kembali mengemban tugas dalam penelitian, hanya saja beda tema, kali ini tentang Pariwisata, tepatnya Peranan Komunitas masyarakat dalam menerapkan sapta pesona dan ekowisata di tempat wisata unggulan di Yogyakarta.  Penelitian kami yang merupakan penelitian produk terapan yang diharapakan mendapatkan model intervensi komunitas dalam menerapkan sapta pesona pada daerah kawasan wisata.


Setelah penelitian sebelumnya sudah dilakukan dengan mensurvei teman-teman pecinta wisata melalui group komunitas traveler, backpacker, dan komunitas jalan-jalan lain. Dari survei tersebut mendapatkan hasil bahwa daerah kunjungan wisata favorite yang menerapkan ekowisata adalah Bali dan Yogyakarta. Sehingga kami tim peneliti sepakat untuk mengambil tempat model percontohan untuk penelitian kami yaitu di Yogyakarta.

Selanjutnya apa sih Sapta Pesona dan Ekowisata? 
Berikut ini sedikit saya jabarkan secara garis besar.

Sapta Pesona adalah program yang canangkan oleh pemerintah dimana kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah. Sapta Pesona terdiri dari tujuh unsur yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan. 

Ekowisata adalah sebagai berikut :
Ekowisata harus dipahami melalui dua sisi yaitu 1) Ekowisata dari segi konsep dan 2) Ekowisata dari segi pasar. Ekowisata dari Segi Konsep Ekowisata merupakan pariwisata bertanggung jawab yang dilakukan pada tempat-tempat alami, serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat (TIES – The International Ecotourism Society dengan sedikit modikasi). Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Ekowisata merupakan konsep pengembangan pariwisata .Ekowisata yang berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Ekowisata memiliki banyak defnisi yang seluruhnya berprinsip pada pariwisata yang kegiatannya mengacu pada lima elemen penting yaitu: 
  • Memberikan pengalaman dan pendidikan kepada wisatawan yang dapat meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap daerah tujuan wisata yang dikunjunginya. Pendidikan diberikan melalui pemahaman akan pentingnya pelestarian lingkungan, sedangkan pengalaman diberikan melalui kegiatankegiatan wisata yang kreatif disertai dengan pelayanan yang prima.
  • Memperkecil dampak negatif yang bisa merusak karakteristik lingkungan dan kebudayaan pada daerah yang dikunjungi.
  • Mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan dan pelaksanaannya.
  • Memberikan keuntungan ekonomi terutama kepada masyarakat lokal, untuk itu, kegiatan ekowisata harus bersifat pro t (menguntungkan).
  • Dapat terus bertahan dan berkelanjutan.  
Nah berikut ini saya lanjutkan ceritaku selama seminggu di Yogyakarta yang berkaitan dengan Penelitian pariwisata yang kami lakukan.

Delay Penerbangan 
Setelah mendapatkan pengalaman terbang terlama, selama perjalanan udara ke Yogya, yaitu sekitar hampir sekitar 4 jam, akhirnya saya merasakan betapa bosennya duduk di dalam pesawat selama berjam jam itu. Penerbangan lama ini dari informasi pilot karena antrian dan fullnya parkir pesawat di bandara Adi Sucipto Yogyakarta, sehingga pesawat terbang atau mutar mutar di udara langit Yogyakarta dan sekitarnya. 

Kemudian, menjelang pukul 11 malam, baru nyampai di tempat nginap, serasa begitu lelah sekali badan, padahal cuma duduk saja di dalam pesawat sejak jam 7 malam. Yaa mungkin efek tekanan atau yang lainnnya.. 

Menjelang tidur, kami sempatkan keluar mencari makan malam sembari melihat kondisi malam yogya, disini terasa berbeda dengan masa saya waktu mengenyam pendidikan di kota gudeg ini, 6 tahun lalu. di daerah-daerah yang dulu masih sepi, hanya rumah rumah warga,  sekarang sudah penuh dengan berbagai macam toko dan warung, begitu padat.  Tidak begitu lama menikmati angin malam yogya saat itu, seiringin santapan nasi goreng dan teh anget khas bunga melati mengantarkan untuk segera istirahat malam untuk persiapan aktivitas esok.

Pelayanan Kesbangpol yang cepat
Selanjutnya.. Keesokan hari sesuai dengan rencana, untuk mengurus izin penelitian di Kesbangpol Yogyakarta. Alhamdulilah dalam sejam, sudah mendapatkan surat izin penelitian tersebut. Kesan di dinas ini membuat saya begitu salut kepada jajaran dinas,. Dimana di kantor ini sudah ada: (1) tempat khusus layanan untuk izin penelitian dan pengabdian masyarakat, jadi tidak perlu mencari atau menemui siapa di kantor ini. (2) Di depan pelayanan ini sudah tertulis poster besar yang berisi tata laksana atau mekanisme prosedur pengurusan surat izin tersebut,  (3) ada tulisan tidak melayani yang memakai baju oblong dan sendal. (4) Serta tidak menerima atau melayani pungli, pengemis dan lainnya. (5) Terdapat kotak saran khusus dan kotak kepuasan. (6) Tetapi yang membuat saya terkesima adalah, begitu banyak mahasiswa atau orang2 yang sedang mengurus surat izin penelitian, pada jam itu saya berbarengan dengan puluhan orang, tetapi tidak perlu menunggu sehari atau beberapa hari untuk mendapatkan surat izin tersebut, jika samua syarat terpenuhi, suratpun langsung jadi, dalam itungan menit disana. 

Nah selama ini pengalaman saya di daerah, butuh menunggu berhari-hari agar mendapatkan surat tersebut dari kesbangpol daerah. Seharus pertama hanya mengantar surat, lalu, terkadang kita dijanjikan sehari, ternyata belum jadi, yang terkadang seminggu baru jadi.. Ini salah siapa ya?  wajar saja daerah selalu tertinggal dengan daerah lebih maju. 

Setelah dari Kesbangpol, kemudian kegiatan sekanjutnya, saya abiskan di Fakultas Fsikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, karena teman yang satu tim penelitian ini,  ada urusan dengan perkuliahannya di Kampus UGM, akhirnya setengah hari saya habiskan mengerjakan edit jurnal Bioedukasi Pendidikan Biologi FKIP  UM Metro di Kampus Hijau ini. Setelah sore kembali ke tempat menginap dan istirahat total untuk mempersiapkan kegiatan besoknya.

Kemudian keesokan harinya saya bersama teman yang sudah berencana, kami mengunjungi Dinas Pariwisata Yogyakarta, kami mengantarkan surat izin penelitian  dari kesbangpol dan menggali informasi yang kami butuhkan untuk penelitian kami tentang sapta pesona dan ekowisata . Akan tetapi, kami tidak bisa langsung dilayani hari itu karena Kepala dan staf yang kami inginkan lagi ada agenda lain, akhirnya kami mendapatkan kesepakatan untuk esok harinya kembali ke sini.

Setelah itu kami kembali ke tempat istirahat untuk membahas, rencana mengisi setengah hari kosong ini, akhirnya sepakat untuk mengunjungi ke tempat wisata yang baru dan terdekat dengan kota Yogyakarta, hingga dapatlah kesepakatan untuk berkunjung ke Tebing Breksi dan sekitarnya. 
simaka artikel selanjutnya tentang : Tebing Breksi dan tempat wisata lainnya .
Load disqus comments

0 komentar