loading...

Monday, January 2, 2017

Menutup Tahun di Barat Lampung

Menikmati Sunset di akhir tahun s016 tepatnya di pantai Tanjung Setia
Pesisir Barat Provinsi Lampung.
Berawal dari chat teman yang sama sama satu group di komunitas traveling dunia Couchshurfing  (CS) Lampung, beliau menanyakan "tahun baru kemana?"  ya saya jawab "belum ada agenda" memang saya jarang sekali ada acara spesial buat tahun baru, jika diajak teman ya ikut lihat acara pesta tahun baru, jika tidak biasanya tidur, besok paginya baru nonton tv, menyaksikan meriahnya acara pesta tahun baru di kota kota dunia di layar kaca. Dari obrolan lewat chating tersebut, beliau mengajak untuk bergabung ke trip dia bersama teman-temnanya dari Komunitas Backpacker dunia Lampung. Dari tawaran tersebut, saya sangat tertarik karena tujuan utamanya adalah Pulau Pisang. Akhirnya saya putuskan untuk ikut bergabung ke trip beliau. Dalam benak saya, ingin menikmati quality time dan bersantai-ria di Pulau Pisang saat pergantian tahun adalah hal yang sesuatu bangettt (lebay ala Syarini). Pulau Pisang adalah pulau yang eksotik dengan pasir putih yang luas dan masih alami sekali. Setahun lalu saya berkunjung ke sini bersama teman2 Backpackers Indonesia (BPI) chapter sumatera, kita bersepuluh lupa akan asli kita, karena terhanyut oleh keindahan alam di pulau ini. Dapat di simak di artikel PULAU PISANG MY SHOCK MY ADVENTURE

Setelah beberapa kali diskusi melalui akun whatapps, saya dapat info bahwa  kita akan trip 3 hari 2 malam, dengan tujuan yang tentatif di distinasi-distinasi wisata di Pesisir Barat. Selanjutnya Kita sepakat mempersiapkan alat-alat lapangan, Saya kebagian mempersiapkan peralatan lapangan: panci, cangkir, piring khusus lapangan, tidak  lupa saya membawa hammock, sleeping bag (SB), dan perlengkapan yang lain.

Hari jumat, tanggal 30, pagi-pagi jam 6 sudah siap, lanjut berangkat menuju rumah Ibu yang ternyata yang memiliki hajat untuk berkunjung ke Krui / Pesbar (Pesisir Barat) tersebut, membawa mobil pribadinya dengan sang sopir adalah teman pengundangku dalam trip ini. Dengan menunggu beberapa waktu, sempat sarapan di rumah beliau, kemudian berangkat menuju ke Pesisir Barat, mengikuti jalan via Tanggamus.

Jam 8an start dari kota Bandar lampung menuju Pesisir Barat dengan jalan Lintas Barat Lampung, selamat perjalanan diisi obrolan dengan teman-teman trip yang hanya berjumlah 5 orang plus dengan sopir (teman trip). Dari itu 3 orang lain, saya baru kenal dan baru melihat saat trip ini. Dari obrolan sepanjang jalan didapat info dan juga pengenalan karakter satu sama lainnya,  ternyata mereka tergabung dalam group traveller di facebook, dengan nama group backpacker dunia lampung, yang salah satu adminnya adalah  salah satu diantara mereka. Walau dari obrolan sepanjang jalan kurang begitu sejalan, karena saya lebih menyukai backpaker di dalam negeri, sedangkan mereka lebih cenderung traveler ke luar negeri.  Nampak sekali antara orientasi hoby yang berbeda.  Tapi semua tidak begitu saya ambil pusing karena semua orang punya keinginan dan tujuan hidup berbeda-beda. 

Pantai di Ngambur Pesisir Barat Lampung
Setelah berjam-jam diatas mobil, rute menuju Krui melewati  kabupaten Pesawaran, Pringsewu dan Tanggamus. Dengan kota-kota yang di lewati Gedung Tataan dengan khas masjid Agung dan Bangunan Jembatan ala ala benteng, lanjut kota Pringsewu dengan kemacetan di pusat kota di jalan utama lintas, Kota Gisting yang nampak jelas hawa sejuk dan pemandangan gunung Tanggamus, Kota Agung dengan pemandangan ke arah teluk semaka, Tanjakan Sedayu yang merupakan tanjakan terpanjang di jalan menuju Krui Via Tanggamus, Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sejuk dan menghijau, Bengkunat  dengan berbagai perkebunan kopi, sawit, kelapa, lada dan hutan damar, dan akhirnya kita berhenti di daerah Ngambur tempat penangkaran penyu, kita masuk ke lokasi tersebut dan sempat berfoto2 di pantai tepat depan rumah penakaran penyu tersebut, tapi sayang kita tidak dapat masuk, semua dalam kondisi terkunci, mungkin penjaganya juga lagi libur tahun baru.. Keinginan ikut ala ala pelepasan anak  penyu di pinggir pantai tidak tercapai. Mungkin lain waktu lagi. 

Akhirnya lanjut perjalanan, hingga sampai di pantai melasti, sama di pantai ini, kita tektok, datang lihat, foto, lanjut berangkat lagi. Hingga akhirnya sampai di Pantai Tanjung Setia.  Di sini kita lihat-lihat cottage hingga akhirnya ke cottage Otopia, yang merupakan langganan setiap tahun selalu menginap di penginapan ini. Setelah ngobrol singkat dengan pemilik penginapan, akhirnya kita diusahakan dapat satu kamar dengan ekstra bad, yang sebelumnya dibilang sudah penuh, karena diboking untuk acara tahun baru, tapi kita dapT juga satu kamar untuk bermalam saat tahun baru 2017. Selanjutnya ketika dipenginapan ini dari obrolan tersebut untuk bermalam, hingga tercetuslah dari pemilik hajat trip, untuk lanjut ke Danau Ranau, karena beliau ingin melihat Danau Ranau dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, tapi tidak berkeinginan ke Pulau Pisang.  Perasaan dalam hati langsung desperates, karena niat mau ke pulau Pisang akhirnya tidak jadi. Ya saya dengan berbesar hati harus menelan ludah saja. Harapan ingin liburan ala ala di pantai berpasir puyih serta laut yang eksotik di Pulau nan Indah itu tidak jadi.

Sore itu juga, kita berangkat ke area pegunungan menuju Kota Liwa. Kurang lebih 1 jam-an, melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Sore kita berhenti di Kota Lewat tepatnya di Mesjid komplek Pemda Lampung Barat. Menjalankan kewajiban sebagai umat beragama Islam adalah keharusan, sholat zuhur yang sempat tertunda terpaksa digabung dengan ashar. Jamak takhir. Selesai sholat, kita kembali berembuk, rencana perjalanan. Setelah diskusi singkat, kita putuskan untuk bermalam di Kota Liwa Saja karena kondisi sudah sore serta penginapan di sekitar danau Ranau relatif sedikit dan takut penuh atau mahal.

Setelah mengumpulkan banyak informasi, termasuk menelpon kakakku yg domisi Liwa, sempat menelpon ke penginapan mas Eka (fotografer Lampung) tetapi penuh, terus kita ke hotel mutiara, tapi cukup mahal, akhirnya ke penginapan di dekat simpang Sendar, pengipan Rosa. Penginapan ini cukup murah dan cocok buat backpacker yang berkunjung ke Liwa, Lampung Barat. Harga penginapan paling murah 150 semalam, kamar mandi di dalam, tidak pake ac karena sudah di pegunungan. Akhirnya malamnya kita di Kota Liwa, malam diisi dengan makan di depan tugu Kota Liwa dan berfoto2 di taman Ham Tebiu.
Kabut pagi di Liwa Kota Berbunga
Setelah subuh kita, sudah siap untuk berangkat menuju Danau Ranau, namun tertunda satu jam lagi karena para ratu belum bangun.  Sambil menunggu kita bedua menikmati kopi rabusta khas Lampung Barat disela-sela sejuknya hawa pagi pegunungan.

Kebun Raya Liwa di Kota Liwa
Sekitar jam 9, kita sudah di Danau Ranau tepatnya di Wisma Pusri, kita hanya foto-foto, makan pagi, lalu berangkat lagi ke Liwa, di Liwa sempat foto di Gapuran Kebun Raya Liwa kemudian lanjut membeli oleh oleh khas Lampung Barat yaitu Kopi dan kue Tat.  Kemudia lanjut menuju ke krui, sebelum sampai di Krui mampir sebentar ke Selter Taman Nasional Bukit Barisan selatan di Kubu Perahu.
Setelah di Krui, kita menikmati sedapnya bakso ikan yang ada di depan pintu masuk objek wisata pantai Labuhan Jukung, selanjutnya bersantai ria di pantai ini kemudian lanjut ke Pantai Tanjung Setia.
Liwa Kota Berbunga ibu kota Kabupaten Lampung Barat

Pantai tanjung Setia
Sore-sore, saya nikmati dengan mengambil foto ombok dan orang yang lagi mancing di pantai ini, hingga menjelang magrib. Pada saat saya berkunjung ke Pantai ini, pantai yang terkenal dengan surganya bagi para surfer/ peselancar, ternyata sepi oleh para pelancong beberapa kali say berkunjung kesini selalu dipadati oleh para peselancar dari luar negeri, akan tetapi sore ini sepi dan nyaris tidak ada wisatawan mancanegara. Pantai ini hanya saya temukan beberapa para nelayan lokal yang sedang asik memancing di tepi pantai serta ramainya wisatawan lokal yang sedang berlibur dengan keluarga atau group masing-masing. bebrapa tahun sebelumnya pantai ini hanya ramai oleh wisman tetapi saat ini sudah ramai oleh pengunjung lokal.

Setelah sore itu saya asik mengabadikan foto dan menikmati sunset di pantai ini, tidak bosen-bosennya saya katanya disini surganya golden sunset di pantai. simak artikel MENIKMATI GOLDEN SUNSET DI PANTAI TANJUNG SETIA. Setelah magrib kami menikmati makan malam di cottage otopia dan malam tahun baru di cottage ini juga sudah penuh oleh para tamu, beberapa pemuda memasang tenda di depan cottage dan ada yang mempersiapkan BBQ serta pihak cottage sudah mempersiapkan organ tunggal. Tapi berbeda dengan saya, saya pasang hummock saya di depan pintu lalu saya tidur hingga terdengar suara petasan.

Detik detik pergantian tahunpun tidak ada yang istimewa, kembang apipun tidak begitu banyak. Tetapi suara organ semakin membuat kuping rasa kurang nyaman, saya kembali tidur hingga subuhpun tiba.

Setelah pagi, kitapun sudah persiapkan untuk pulang ke Bandar Lampung..
Begitulah cerita pergantian tahun 2017 yang saya rasakan, jauh api di atas panggang..
Semua adalah perjalanan..

menimati suasana pagi di Pantai Tanjung Setia Pesisir Barat Lampung 

Serunya Hummock-an di Pantai Melasti yang banyak pohon kelapa
berikut ini Video amatari di Trip selama pergantian akhir tahun 2016 menuju 2017
thumbnail
Judul: Menutup Tahun di Barat Lampung
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Catatanku, tempat wisata :

1 komentar:

Yopie Pangkey said...

Lampung Barat dan Pesisir Barat memang ga pernah bosenin ya. Apalagi kalau bisa mampir Pulau Pisang.
Kapan nih bisa jalan bareng?

 
Copyright © 2015. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz